Marcell Siahaan Memaknai Perjalanan Batin Diri dalam Menuju Cahaya
JAKARTA - Marcell Siahaan merilis karya musik terbaru di bulan Ramadan tahun ini. Membawa tema tentang perjalanan batin seseorang, Marcell menggali lebih dalam pencarian diri manusia secara retrospektif.
Lagu ini merupakan single religi kedua bagi Marcell. Sebelumnya di 2024 ia meluncurkan lagu berjudul "Tawakal", yang lirik, komposisi serta aransemennya ditulis sendiri olehnya.
Melalui label rekaman dan penerbit musik miliknya sendiri yaitu Ruang Menyusui Records dan MKH Publishing, single "Menuju Cahaya" diproduksi Marcell sendiri sebagai pengarah musik utama. Vokal direkam oleh Yusuf Effendi Hadiyanto di studio Ruang Menyusui, dibantu oleh musisi-musisi belakang layar legendaris di antaranya Gatot Alindo pada gitar akustik dan elektrik dan Ivan Alidiyan pada keyboard dan synthesizer.
Sementara Stefanus Adi Wibowo sebagai pengarah vokal, serta Lawrence 'Random' Widarto sebagai juru adun atau mixing and mastering engineer. Tak ketinggalan, istri tercintanya Rima Melati Adams juga turut serta membacakan penggalan lirik puitis berbahasa Inggris dalam lagu tersebut.
"Jelas, cuman Rima yang paling fasih dan paling bagus pelafalan bahasa Inggris-nya di rumah ini," ujar Marcell dalam siaran tertulis yang diterima VOI, 26 Februari.
Melalui liriknya, Menuju Cahaya menggambarkan perjalanan batin manusia di saat berhenti merasa menjadi pusat, dan mulai melangkah menuju sesuatu yang lebih besar daripada dirinya. Lagu ini tidak berbicara tentang pencapaian, melainkan tentang pelepasan; bukan tentang menjadi benar, tetapi tentang belajar untuk tunduk dan jujur pada diri sendiri.
Baca juga:
Liriknya sendiri terinspirasi dari konsep Tazkiyatun Nafs, yaitu proses pemurnian jiwa. Gagasan ini selaras dengan pesan Al-Qur’an dalam Surat Asy-Syams (91) ayat 9-10 dan Surat Al- A‘la (87) ayat 14, yang sama-sama menegaskan bahwa keberuntungan sejati bukan datang dari pengakuan luar, melainkan dari keberanian membersihkan batin.
"Cahaya” dalam lagu ini tidak dimaknai sebagai simbol kesuksesan personal atau pencerahan instan. Cahaya adalah tujuan, sebagai sesuatu yang didekati, bukan dimiliki. Pemaknaan ini terinspirasi dari gambaran Cahaya Ilahi dalam Surat An-Nur ayat 35, sehingga liriknya tidak menonjolkan ego, melainkan menekankan proses melakukan suatu perjalanan: melangkah tanpa nama, tanpa beban untuk dipuja.
Ada hal menarik dari sisi pengolahan musik di lagu ini. Meski bernuansa religi, lagu ini dikemas dengan cukup unik lewat aransemen yang kental bernuansa elektronik.
"Saya sengaja melahirkan lagu ini dengan aransemen yang sedikit berbeda, tentunya tanpa kehilangan ruh-nya, harapannya agar lagu ini bisa menjaring lebih banyak pendengar dari berbagai segmen yang lebih luas dan beragam," jelas Marcell.
"Dan siapapun mereka bisa memaknai musik dan lirik dari lagu ini tanpa harus menunggu momen- momen tertentu. Pemurnian diri adalah proses yang layak dirayakan oleh siapapun, dimanapun dan kapanpun." tutupnya.