Nvidia H200 Belum Masuk China, Pejabat AS Buka Suara di Tengah Ketegangan Ekspor Chip AI

JAKARTA — Pemerintah Amerika Serikat memastikan bahwa hingga kini belum ada satu pun chip AI H200 buatan Nvidia yang terjual ke pelanggan di China, meskipun sebelumnya Washington telah memberi lampu hijau terbatas untuk ekspor tersebut.

Pernyataan itu disampaikan David Peters, asisten sekretaris untuk penegakan ekspor di Departemen Perdagangan AS, dalam sidang Komite Urusan Luar Negeri DPR AS pada Selasa waktu setempat. Saat ditanya mengenai penjualan chip H200 ke China, Peters menjawab singkat, “Pemahaman saya, sejauh ini belum ada.”

H200 merupakan chip AI kedua tercanggih milik Nvidia, perusahaan semikonduktor raksasa yang berbasis di Amerika Serikat. Chip ini dirancang untuk kebutuhan komputasi intensif seperti pelatihan model kecerdasan buatan skala besar.

Pemerintahan Presiden AS, Donald Trump, bulan lalu secara resmi mengizinkan penjualan H200 ke China dengan sejumlah syarat ketat. Kebijakan tersebut memicu kritik dari sejumlah anggota parlemen dan mantan pejabat dari kedua partai politik, yang khawatir teknologi itu dapat mempercepat kemajuan militer dan ambisi AI Beijing.

Gedung Putih, melalui penasihat AI, David Sacks, berargumen bahwa mengizinkan ekspor chip canggih justru dapat meredam upaya perusahaan China yang terkena sanksi, seperti Huawei, untuk mengembangkan desain chip mutakhir secara mandiri. Logikanya sederhana namun kontroversial: jika akses tetap terbuka dalam batas tertentu, insentif untuk membangun alternatif domestik bisa melemah.

Namun kubu yang lebih keras terhadap China melihat risiko berbeda. Mereka menilai chip berperforma tinggi seperti H200 berpotensi dialihkan dari penggunaan komersial menjadi dukungan terhadap pengembangan militer dan sistem kecerdasan buatan strategis China, yang pada akhirnya dapat menggerus dominasi AS di bidang AI.

Untuk saat ini, pengiriman chip tersebut masih tertahan karena adanya “guardrails” atau pagar pembatas regulasi dalam proses ekspor. Detail teknis pembatasan tersebut tidak diungkapkan secara rinci dalam sidang.

Dalam kesempatan yang sama, Peters juga menanggapi isu penyelundupan chip ke China. Anggota DPR dari Partai Republik, Bill Huizenga, menyinggung laporan Reuters yang menyebut startup AI China, DeepSeek, menggunakan chip Nvidia paling canggih untuk melatih model AI terbarunya, diduga melanggar aturan kontrol ekspor AS.

“Ya, penyelundupan chip memang terjadi, itu sedang berlangsung,” kata Peters. “Kami secara aktif menangani masalah ini. Ini termasuk prioritas utama penegakan kami.”

Kedutaan Besar China di Washington dan Nvidia belum memberikan tanggapan atas permintaan komentar.

Situasi ini memperlihatkan betapa semikonduktor kini bukan sekadar komponen elektronik, melainkan instrumen geopolitik. Chip AI menjadi semacam “uranium digital” dalam perlombaan kecerdasan buatan global. Satu keputusan ekspor bisa berdampak pada keseimbangan kekuatan teknologi antara dua ekonomi terbesar dunia. Di era ini, silikon bukan hanya bisnis, tapi juga strategi nasional.