Mengapa Ramadan 1447 H Dimulai Kamis Besok? Ini Penjelasan Kemenag

JAKARTA – Keputusan Sidang Isbat penetapan 1 Ramadan 1447 H oleh Kementerian Agama Republik Indonesia didasarkan pada data astronomis yang dinilai sangat kuat. Menteri Agama Nasaruddin Umar menegaskan bahwa secara teknis, hilal di seluruh wilayah Indonesia bahkan belum “lahir” di atas cakrawala saat matahari terbenam.

Data hisab menunjukkan posisi hilal berada pada titik yang sangat rendah, bahkan menyentuh angka minus 2 derajat di sejumlah titik pengamatan. Dalam pemaparan Sidang Isbat, Menag menjelaskan bahwa posisi hilal di seluruh kepulauan Indonesia berkisar antara minus 2 derajat 64 menit hingga 0 derajat 48 menit. Kondisi ini secara sains disebut sebagai ghairu wujudul hilal atau hilal yang belum berwujud.

“Data hilal pada posisi hisab di seluruh Indonesia menunjukkan ketinggian yang masih sangat rendah. Secara hisab, hilal belum berwujud di atas ufuk,” tegas Nasaruddin Umar.

Sesuai kriteria MABIMS yang digunakan Indonesia, hilal baru dianggap memenuhi syarat visibilitas jika berada pada ketinggian minimal 3 derajat dengan sudut elongasi 6,4 derajat. Selain ketinggian yang negatif, sudut elongasi atau jarak sudut antara bulan dan matahari juga terpantau sangat minim, yakni hanya di kisaran 0 derajat 56 menit hingga 1 derajat 53 menit.

“Data ini menunjukkan bahwa jarak bulan masih terlalu dekat dengan matahari, sehingga mustahil untuk bisa terlihat oleh mata manusia maupun alat optik di 96 titik pengamatan kita,” tambahnya.

Karena posisi hilal tidak memenuhi kriteria tersebut, maka bulan Syakban digenapkan menjadi 30 hari atau istikmal. Dengan demikian, 1 Ramadan 1447 H ditetapkan jatuh pada Kamis, 19 Februari 2026.

Secara rinci, tinggi hilal terbesar pada 17 Februari 2026 tercatat di Sabang, Aceh dengan tinggi hilal mar’i minus 1 derajat 41 menit, sedangkan yang terendah terjadi di Jayapura, Papua dengan minus 3 derajat 12 menit. Di Jakarta, tepatnya di Gedung PBNU, Jalan Kramat Raya, tinggi hilal tercatat minus 1 derajat 44 menit 39 detik.

Ijtimak atau konjungsi sendiri terjadi pada Selasa, 17 Februari 2026 pukul 19.02.02 WIB berdasarkan perhitungan metode falak (hisab) tahqiqi tadqiki ashri kontemporer khas Nahdlatul Ulama.

Sementara itu, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) juga merilis informasi prakiraan hilal saat matahari terbenam pada 17 dan 18 Februari 2026. BMKG menyebutkan konjungsi terjadi pada Selasa, 17 Februari 2026 pukul 12.01.07 UT atau 19.01.07 WIB.

Dengan memperhatikan waktu konjungsi dan waktu matahari terbenam, BMKG menyimpulkan bahwa pada 17 Februari 2026 hilal masih berada di bawah ufuk di seluruh wilayah Indonesia, dengan ketinggian berkisar antara minus 2,41 derajat di Jayapura hingga minus 0,93 derajat di Tua Pejat, Sumatera Barat.

Sebaliknya, pada 18 Februari 2026, ketinggian hilal sudah berada pada kisaran 7,62 derajat di Merauke hingga 10,03 derajat di Sabang, dengan elongasi geosentris antara 10,7 derajat hingga 12,21 derajat. Data tersebut menunjukkan bahwa secara astronomis, hilal baru memenuhi kriteria visibilitas pada keesokan harinya, sehingga awal Ramadan ditetapkan pada 19 Februari 2026.