Pengamanan Obvit Daerah Terpencil Perlu Peran TNI

JAKARTA – Pengamat militer Unhan, Ade Muhammad, menyebut bahwa TNI perlu mengambil peran pengawasan khususnya di wilayah terpencil yang memiliki kondisi geografis sulit dan keterbatasan infrastruktur keamanan.

Dia mencontohkan, insiden penembakan terhadap dua pilot maskapai Smart Air oleh kelompok bersenjata di Bandara Korowai Batu, Distrik Yaniruma, Kabupaten Boven Digoel, Papua Selatan, menunjukkan pentingnya peran TNI dalam menjaga obyek vitak (obvit) di wilayah terpencil.

“Di banyak daerah pedalaman, bandara perintis menjadi satu-satunya jalur logistik dan mobilitas masyarakat, namun justru berada dalam situasi security blank spot karena jangkauan pengamanan sipil terbatas,” ungkapnya, Minggu, 15 Februari.

Menurut Ade, kekuatan Polri secara struktural dirancang untuk penegakan hukum di wilayah dengan dukungan administrasi dan infrastruktur yang memadai.

Sementara kelompok separatis bersenjata beroperasi dengan taktik gerilya, sabotase, dan teror terhadap objek vital.

“Karakter ancaman seperti ini termasuk kejahatan ekstrem yang tidak selalu dapat diantisipasi dengan pendekatan hukum biasa,” imbuhnya.

Di sisi lain, TNI memiliki kemampuan mobilitas, logistik, dan struktur komando teritorial yang dirancang menghadapi ancaman bersenjata di medan sulit.

Karena itu, kehadiran TNI diperlukan untuk menutup celah keamanan di wilayah yang tidak terjangkau sistem pengamanan sipil, sekaligus memberikan efek tangkal terhadap kelompok bersenjata.

Seperti diketahui, serangan di Korowai terjadi Rabu, 11 Februari lalu sekitar pukul 11.00 WIT.

Pesawat Smart Air yang mengangkut 13 penumpang ditembaki saat mendarat di Bandara Korowai Batu. Pilot dan kopilot tewas.

Di hari yang sama, serangan juga terjadi di area PT Freeport Indonesia. Rombongan kendaraan perusahaan itu ditembaki di KM 50, Timika, Papua Tengah.