Prabowo: Penghematan Rp300 Triliun Dipakai untuk Program Nyata, FGD Tak Perlu Kebanyakan
JAKARTA - Presiden Prabowo Subianto mengklaim efisiensi anggaran menjadi “mesin” pembiayaan program prioritas. Ia menyebut penghematan Rp300 triliun lebiih.
“Uang penghematan inilah yang kita pakai untuk program MBG dan sebagainya,” kata Prabowo dalam pidatonya di Indonesia Economic Outlook 2026 di gedung Danantara, Jakarta, Jumat, 13 Februari.
Presodenmenyebut pos yang ditekan antara lain perjalanan luar negeri, seremoni, rapat, seminar, hingga FGD. “Kajian-kajian, analisa-analisa… sudah tidak perlu terlalu banyak… rakyat lapar, cari pangan,” ujarnya.
Prabowo menautkan efisiensi dengan target kinerja. Ia menyebut Danantara belum genap setahun berjalan, namun ia menerima laporan sementara efisiensi dan reformasi melahirkan capaian empat kali lipatdibanding 2024.
Presiden menegaskan pekerjaan itu belum selesai. “Ini luar biasa tapi harus terus dikejar,” katanya.
Targetnya dipasang tanpa basa-basi. “Saya menuntut return on asset ya 7 persen lah,” ujar Prabowo, lalu menaikkan patokan menjadi 8 persen.
Namun Prabowo juga memberi catatan keras yaitu efisiensi belum cukup karena kebocoran masih besar. Ia menyebut penyelewengan harus ditutup, dan menyentil masalah bukan hanya di sektor swasta, tapi juga di birokrasi.
Presiden bahkan mengutip nama Winston Churchill—lalu meragukan akurasinya—sebelum melontarkan candaan presiden lebih takut birokrat sendiri ketimbang Adolf Hitler atau “kuntilanak”.
Baca juga:
Di bagian lain, Prabowo menyebut pernah memanggil pengusaha—“sebagian besar kawan saya sendiri”—untuk meminta mereka patuh aturan dan berhenti mencari celah.
Pesannya tegas. Anggaran dipaksa bekerja, target dibuat terukur, dan siapa pun yang menghambat—di luar maupun di dalam pemerintahan—akan jadi bagian masalah, bukan solusi.