MUI Berubah Sikap Usai Dengar Penjelasan Prabowo, Dukungan ke Board of Peace Kini Bersyarat
JAKARTA — Sikap Majelis Ulama Indonesia (MUI) berubah setelah mendengar langsung paparan Prabowo Subianto. Lembaga yang semula kritis kini menyatakan dukungan terhadap keterlibatan Indonesia di Board of Peace (BoP), namun dengan garis batas tegas: harus membawa maslahat, atau ditinggalkan.
Perubahan nada itu muncul usai Presiden menjelaskan konflik global—Eropa, Timur Tengah, hingga ancaman nuklir—akan menghantam Indonesia, bukan hanya secara politik, tetapi juga ekonomi dan keamanan nasional. Stabilitas dunia disebutnya berkait langsung dengan kesejahteraan rakyat. Karena itu, keterlibatan di BoP diposisikan sebagai langkah mencegah perang, bukan sekadar manuver diplomasi.
Sekjen MUI Amirsyah Tambunan menangkap pesan utama Presiden. Penguatan ekonomi dan ketahanan nasional tak bisa dilepas dari situasi global yang damai. MUI menilai mudarat terbesar justru bila perang meledak. Dampaknya tak terhindarkan bagi Indonesia.
“Konflik tidak menguntungkan siapa pun,” ujarnya usai bertemu Presiden Prabowo Subianto di kompleks Istana Kepresidenan Jakarta, Selasa, 2 Februari.
Baca juga:
Sementara, Ketua MUI Anwar Iskandar menegaskan komitmen Presiden memperjuangkan kemerdekaan Palestina dan membantu penderitaan Gaza melalui forum tersebut. Indonesia akan bergerak bersama negara-negara Islam lain. Namun dukungan itu bersyarat. Jika BoP tak memberi manfaat bagi Palestina dan perdamaian dunia, negara-negara Islam, termasuk Indonesia, bisa keluar.
“Sepanjang untuk kemaslahatan, kenapa tidak? Kan ada janji kalau memang tidak bermaslahat akan keluar,” kata Anwar di tempat yang sama.
“Yang penting kita catat, Presiden berkomitmen berpihak pada kepentingan dan kesejahteraan rakyat Indonesia, memberantas korupsi, serta membawa negara ini menuju kemakmuran dan kondisi yang lebih baik ke depan. Itu yang beliau sampaikan di dalam,” lanjut Anwar.