Jangan Sepelekan Migrain, Dampaknya Bisa Mengganggu Aktivitas hingga Produktivitas
JAKARTA - Migrain masih sering dianggap sebagai sakit kepala biasa yang akan hilang dengan sendirinya. Padahal, kondisi ini memiliki karakteristik dan dampak yang jauh lebih serius dibanding sakit kepala ringan.
Tidak sedikit penderita migrain yang terpaksa menghentikan aktivitas, menarik diri dari pekerjaan, bahkan membutuhkan penanganan medis khusus. Sayangnya, karena kerap disepelekan, sehingga tak sedikit orang terlambat mendapatkan pengobatan yang tepat.
Secara medis, migrain merupakan jenis nyeri kepala yang terasa berdenyut dan umumnya muncul di satu sisi kepala. Intensitasnya bisa sedang hingga berat, dan sering kali bersifat hilang timbul.
Kondisi ini jauh lebih melemahkan dibanding sakit kepala biasa karena dapat membuat penderitanya tidak mampu menjalani aktivitas sehari-hari.
Migrain juga kerap disertai berbagai gejala tambahan, seperti sulit berkonsentrasi, munculnya kilatan cahaya atau garis tidak biasa pada penglihatan, rasa kesemutan atau mati rasa di wajah dan tangan, hingga perubahan sensasi penciuman, pengecap, dan sentuhan.
Kombinasi gejala tersebut berdampak langsung pada penurunan produktivitas dan kualitas hidup. dr. Novrialdi Kesuma Putra, spesialis saraf Eka Hospital Bekasi menyebutkan, migrain termasuk jenis nyeri kepala berdenyut yang umumnya bersifat episodik dan terjadi di satu sisi kepala.
"Intensitasnya pun dimulai dari ringan, sedang hingga berat. Sedangkan aktivitas fisik dapat memperparah kondisi tersebut, sehingga penderita migrain disarankan untuk beristirahat saat serangan muncul," jelas dokter Aldi saat temu media di Bekasi, baru-baru ini.
Baca juga:
Penyebab migrain sendiri sangat beragam. Faktor pemicunya bisa berupa perubahan hormon, stres, konsumsi alkohol atau kafein berlebihan, rangsangan sensorik seperti cahaya terang, suara bising, atau bau menyengat, hingga perubahan pola tidur.
Selain itu, aktivitas fisik berlebihan, perubahan cuaca, penggunaan obat tertentu, serta konsumsi makanan dan bahan tambahan tertentu juga dapat memicu migrain.
Terkait pengobatan, dr. Aldi menjelaskan penanganan migrain terbagi menjadi dua pendekatan utama, yaitu farmakologis dan nonfarmakologis. Terapi farmakologis dilakukan dengan pemberian obat-obatan, seperti obat pereda nyeri atau obat pencegah kekambuhan, yang disesuaikan dengan kondisi pasien.
"Terapi ini umumnya diberikan sambil disertai edukasi mengenai migrain. Setiap pasien yang berobat pasti akan diedukasi apa yang mereka lakukan selama 24 jam ke belakang. Mulai dari riwayat tidur, pola makan, pola kerja yang mungkin memicu stres dan lain sebagainya," tambah dokter Aldi.
Jika terapi obat tidak memberikan hasil optimal atau migrain semakin sering dan berkepanjangan, dokter dapat merekomendasikan terapi nonfarmakologis. Pendekatan ini meliputi akupunktur, pijat atau massage, aromaterapi, hingga terapi relaksasi. Namun, pemilihan terapi tetap harus berdasarkan evaluasi medis yang menyeluruh.
Dalam kondisi tertentu, terutama bila dari hasil asesmen ditemukan adanya defisit neurologis, pasien perlu menjalani pemeriksaan lanjutan. Pemeriksaan seperti CT scan, MRI, hingga tes laboratorium dilakukan untuk mengetahui kemungkinan adanya gangguan atau kerusakan pada sistem saraf.
"Pada kasus yang lebih berat, pasien bahkan dapat memerlukan perawatan inap untuk pemantauan dan penanganan lebih lanjut," pungkasnya.