Bayangan Perang Dunia III
JAKARTA – Ketegangan global yang makin meningkat dalam beberapa tahun terakhir seperti membuka rapuhnya tatanan internasional paska Perang Dingin. Bahkan, beberapa pengamat, politikus, dan pegiat hubungan internasional melihat situasi geopolitik global saat ini tengah memasuki fase paling berbahaya sejak 1945.
Presiden ke-6 RI, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) sampai mengungkapkan kecemasannya atas dinamika geopolitik global beberapa bulan terakhir. SBY khawatir Perang Dunia ke-3 akan terjadi. “Tiga tahun ini, saya mengikuti perkembangan dunia. Terlebih dinamika global bulan-bulan terakhir ini. Sebagai seseorang yang puluhan tahun memperhatikan dan mendalami geopolitik, perdamaian dan keamanan internasional, serta sejarah peperangan dari abad ke abad, terus terang saya khawatir. Cemas dan khawatir kalau sesuatu yang buruk akan terjadi. Cemas kalau dunia mengalami prahara besar. Apalagi kalau prahara besar itu adalah Perang Dunia Ketiga,” tuturnya melalui akun X-nya @SBYudhoyono.
Dia menilai, sangat mungkin konflik yang terjadi di dunia akan berujung pada Perang Dunia III. Terlebih, pola yang terjadi belakangan sama seperti yang pernah terjadi pada Perang Dunia I (1914-1918) dan Perang Dunia II (1939-1945). “Sangat mungkin Perang Dunia Ketiga terjadi. Meskipun, saya tetap percaya hal yang sangat mengerikan ini bisa dicegah. Tapi, day by day, ruang dan waktu untuk mencegahnya menjadi semakin sempit. Situasi dunia menjelang terjadinya Perang Dunia Pertama (1914-1918) dan Perang Dunia Kedua (1939-1945) memiliki banyak kesamaan dengan situasi saat ini,” terang SBY.
“Misalnya, munculnya pemimpin-pemimpin kuat yang haus perang, terbentuknya persekutuan negara yang saling berhadapan, pembangunan kekuatan militer besar-besaran termasuk penyiapan ekonomi dan mesin perangnya, serta geopolitik yang benar-benar panas. Sejarah juga mencatat, bahwa meskipun sudah ada tanda-tanda nyata bakal terjadinya perang besar, tetapi sepertinya kesadaran, kepedulian, dan langkah nyata untuk mencegah peperangan itu tidak terjadi,” sambungnya.
Dari luar negeri, Majalah The New Yorker menyebut Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump sebagai penggerak “proyek imperialis baru” yang ditandai unilateralisme agresif. Mulai dari aneksasi di Venezuela hingga ambisi menguasai Greenland, kebijakan Trump ini dinilai menciptakan preseden berbahaya yang berpotensi ditiru kekuatan besar lain, terutama Rusia dan China. Dampaknya, risiko konflik global akan meningkat tajam.
Baca juga:
Bahkan, The Telegraph menyebut Perang Dunia III bukan lagi sekadar kemungkinan, tapi proses yang mungkin telah dimulai secara terfragmentasi. Timur Tengah dianggap sebagai salah satu titik api utama. Ancaman intervensi militer AS terhadap Iran, di tengah gelombang protes domestik di negeri itu, memicu eskalasi retorika dan kesiapan militer. Teheran menuduh Washington secara sengaja meningkatkan ketegangan kawasan.
Dalam eskalasi terkini, ketua parlemen Iran memperingatkan bahwa setiap serangan AS akan dibalas dengan serangan terhadap pangkalan dan kapal Israel serta Amerika di kawasan. Ini mendesak Israel dan sejumlah negara Arab mengiba agar AS menunda menyerang Iran. Presiden Iran, Masoud Pezeshkian kembali mengeluarkan peringatan bahwa serangan AS ke negaranya akan memprovokasi sebuah respons keras. Jika serangan itu sampai mengakibatkan terbunuhnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, hal tersebut bakal dilihat “sama dengan perang berskala besar terhadap bangsa Iran”.
Komplikasi di Tanah Eropa
Selama Perang Dingin, selalu ada potensi konflik di Eropa. Namun saat ini, pernyataan-pernyataan pejabat di kedua sisi Atlantik, Rusia dan di seluruh Eropa Barat, menunjukkan kesiapan retoris untuk konflik bersenjata dalam skala yang belum pernah terlihat sebelumnya.
Perdana Menteri Hongaria Viktor Orbánara mengeklaim bahwa para pemimpin Eropa telah membentuk “Dewan Perang” untuk merencanakan kemenangan dalam potensi perang dunia ketiga. “Saya duduk di sana di antara mereka, 27 perdana menteri dan kepala negara duduk mengelilingi meja ketika kita bertemu di Eropa, dan saya memberitahu Anda dengan tegas bahwa mereka akan berperang,” ungkapnya seperti dilansir International Business Times.
Sekjen Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO), Mark Rutte, bahkan menyatakan bahwa negara-negara Barat “harus bersiap menghadapi perang besar seperti yang dialami kakek dan nenek kita”. Sementara Panglima Angkatan Udara Inggris, Sir Richard Knighton mengatakan bahwa situasi saat ini jauh lebih berbahaya dibandingkan masa-masa sebelumnya dalam kariernya.
Dikutip dari The Independent, saat Presiden Rusia, Vladimir Putin terus menunda perundingan perdamaian terkait konflik Ukraina, ia juga memperingatkan bahwa Rusia siap berperang dengan Eropa jika diperlukan. Jika hal ini terjadi, kemungkinan besar hal ini akan terjadi melalui provokasi sekutu NATO di Eropa pada sejumlah titik rawan terutama di Baltik, Atlantik Utara, dan Balkan.
The Economic Times mengungkap bila Rusia juga mulai meningkatkan produksi rudal hipersonik. Senjata jarak menengah tersebut mampu menyerang sasaran hingga jarak 3.415 mil, sehingga menempatkan lokasi di seluruh Eropa dan bahkan AS bagian barat dalam jangkauan potensialnya. Keberhasilan uji coba rudal jelajah bertenaga nuklir Burevestnik pada bulan Oktober – dijuluki “Flying Chernobyl” karena memancarkan gas radioaktif dari reaktornya yang tidak terlindungi – menandai peningkatan eskalasi lainnya.
Uji coba rudal tersebut menunjukkan bahwa rudal tersebut dapat terbang selama 15 jam nonstop dan menempuh jarak 14.000 km namun jangkauan sebenarnya bisa jadi “tidak terbatas”. Klaim Putin bila Rusia kini memiliki persenjataan nuklir tingkat tertinggi di dunia adalah peringatan Perang Dunia Ketiga yang mengerikan.
Namun, ada dinamika baru terkait ambisi Trump mencaplok Greenland. Dengan dalih tak dapat penghargaan Nobel Perdamaian tahun lalu, ia merasa tak punya alasan mengutamakan jalan damai untuk merebut pulau besar milik Denmark tersebut. “Mengingat Negara Anda memutuskan untuk tidak memberi saya Hadiah Nobel Perdamaian karena telah menghentikan lebih dari delapan perang, saya tidak lagi merasa berkewajiban untuk memikirkan perdamaian semata,” tukas Trump.
Ancaman penerapan tarif hukuman sebesar 10 persen, yang kemudian meningkat menjadi 25 persen, pada impor dari Denmark, Norwegia, Swedia, Perancis, Jerman, Inggris, Belanda dan Finlandia kecuali mereka membatalkan keberatan mereka terhadap rencana tersebut telah telah menjerumuskan hubungan perdagangan antara Uni Eropa dan AS ke dalam kekacauan baru, memaksa blok tersebut untuk mempertimbangkan tindakan pembalasan, dan juga berisiko menghancurkan aliansi trans-Atlantik NATO yang telah menjamin keamanan negara-negara Barat selama beberapa dekade.
Selat Taiwan yang Terus Bergolak
Selat Taiwan juga disebut banyak analis sebagai medan paling berbahaya di abad ke-21. Beijing memandang Taiwan sebagai bagian tak terpisahkan dari China, sementara AS semakin terbuka mendukung status quo kemerdekaan de facto pulau tersebut. Latihan militer besar-besaran Pasukan Pembebasan Rakyat (PLA) China dengan peluru tajam, simulasi blokade, uji tongkang pendaratan amfibi, hingga pengembangan pemotong kabel laut menunjukkan kesiapan China untuk operasi militer kompleks.
Pada tanggal 31 Desember 2025, Beijing merilis pidato Tahun Baru yang disampaikan oleh Presiden Xi Jinping ketika negara tersebut bersiap memasuki tahun 2026. Selain masalah dalam negeri, Taiwan sekali lagi muncul sebagai titik fokus utama, yang mencerminkan tekad Beijing yang semakin besar. Dalam pidatonya, Presiden Xi menegaskan bahwa Masyarakat China di kedua sisi Selat Taiwan memiliki garis keturunan dan kekerabatan yang sama. Reunifikasi nasional, sebagai tanda zaman, tidak dapat dihentikan.
Sebelum menutup tahun 2025, China meluncurkan latihan militer skala besar yang dijuluki “Misi Keadilan” yang dimulai pada 29 Desember 2025. Latihan ini menandai latihan militer berskala terbesar hingga saat ini dan terutama mencakup latihan tembak-menembak. China Central Television (CCTV) menekankan bahwa Beijing “tidak akan menunjukkan belas kasihan dalam memerangi separatisme dan mendorong reunifikasi nasional, melanjutkan operasi anti-separatis dan anti-intervensi, dan dengan tegas menjaga kedaulatan nasional, persatuan, dan integritas wilayah.”
Selain menanggapi pembelian senjata Taiwan senilai 40 miliar dolar AS dari AS, Misi Keadilan menegaskan kembali tujuan strategis China terhadap Taiwan. Persiapan yang dilakukan secara diam-diam sejak tahun 2021 di Provinsi Fujian menunjukkan bahwa Misi Keadilan mungkin mewakili latihan terakhir China sebelum kesiapan untuk terlibat dalam pertempuran dan mencaplok Taiwan.
Sejumlah pengamat memperkirakan tahun 2027 sebagai momen krusial, bertepatan dengan seabad berdirinya PLA. Washington dipandang akan sulit menghindari konfrontasi jika Taiwan diserang. Invasi ke pulau itu hampir pasti memicu perang langsung AS–China, yang kemudian menyeret Jepang, Australia, India, dan negara-negara NATO Asia-Pasifik. Dalam skenario terburuk, konflik Taiwan bisa juga menjadi pemicu utama Perang Dunia Ketiga.
Dalam analisisnya yang diterbitkan Majalah Profile, peneliti utama di Institut Ekonomi Dunia dan Hubungan Internasional Rusia, Dmitri Trenin meyakini bahwa dunia tengah berada dalam bayang-bayang Perang Dunia III. Namun berbeda dari invasi konvensional seperti era Perang Dunia II, bentuk perang kali ini jauh lebih tersembunyi dan menyebar. “Perang dunia telah dimulai. Hanya saja, tidak semua orang menyadarinya,” ujarnya.
Trenin menilai bahwa fase praperang global bagi Rusia dimulai sejak 2014, bagi Tiongkok sejak 2017, dan bagi Iran sejak 2023. Dalam pandangannya, sejak saat itu dunia telah memasuki babak konflik baru yang semakin intensif. Bentuknya bukan sekadar adu kekuatan militer, melainkan konflik menyeluruh yang mencakup sabotase ekonomi, agitasi sosial, serta destabilisasi internal negara-negara lawan.
Diakui atau tidak, dunia kini berada pada persimpangan sejarah. Konflik-konflik regional yang saling terhubung membuat satu kesalahan kalkulasi saja cukup untuk menyalakan api perang global. Pertanyaannya bukan lagi apakah eskalasi mungkin terjadi, tapi apakah dunia siap menanggung konsekuensinya saat para pemimpin dunia kehilangan akal sehat dan terus memilih konfrontasi.