Mengenal Lebih Dekat Apa Itu Tagatose, Alternatif Gula untuk Pola Hidup Sehat
YOGYAKARTA - Pertanyaan mengenai apa itu tagatose kerap dipertanyakan seiring meningkatnya tren pemanis rendah kalori. Bahan ini disebut-sebut memiliki rasa manis mirip gula, tetapi dampaknya berbeda bagi tubuh.
Tagatose mulai digunakan dalam berbagai produk makanan dan minuman modern. Namun, masih banyak orang yang belum memahami asal-usul, fungsi, serta keamanannya jika dikonsumsi rutin.
Dilansir VOI dari laman Tufts researchers dan Science Alert berikut ini beberapa fakta menarik mengenai tagatose:
Apa Itu Tagatose?
Tagatose adalah jenis gula alami langka yang secara struktur mirip dengan fruktosa. Secara alami, tagatose hanya ditemukan dalam jumlah sangat kecil dibandingkan gula umum seperti glukosa atau sukrosa.
Zat ini bisa terbentuk ketika laktosa dalam susu terurai melalui panas atau proses enzimatik, seperti pada pembuatan yogurt, keju, dan kefir. Selain itu, beberapa buah seperti apel, nanas, dan jeruk juga mengandung tagatose dalam kadar sangat rendah.
Asal Usul dan Mengapa Tagatose Sulit Diproduksi
Karena kandungannya di alam sangat minim atau kurang dari 0,2 persen dari total gula, membuat tagatose umumnya tidak diekstraksi langsung, melainkan diproduksi melalui proses manufaktur.
Masalahnya, metode produksi konvensional selama ini tergolong mahal dan tidak efisien. Hasil produksinya pun terbatas, sehingga membuat tagatose sulit bersaing secara harga dengan gula biasa.
Baca juga:
Terobosan Produksi Tagatose Berbasis Bioteknologi
Menariknya, para peneliti dari Tufts University mengembangkan metode baru dengan merekayasa bakteri Escherichia coli agar berfungsi sebagai pabrik mikro. Bakteri ini dilengkapi enzim khusus untuk mengubah glukosa bahan yang lebih murah dan melimpah menjadi tagatose.
Kunci inovasi ini adalah penggunaan enzim langka dari slime mold bernama galactose-1-phosphate-selective phosphatase (Gal1P). Enzim tersebut memungkinkan jalur biologis dibalik, sehingga galaktosa dapat diproduksi dari glukosa sebelum akhirnya diubah menjadi tagatose.
Dengan metode ini, hasil produksi tagatose dapat mencapai hingga 95 persen, jauh lebih tinggi dibanding metode lama yang hanya berkisar 40–77 persen.
Karakteristik Rasa dan Kandungan Tagatose
Secara rasa, tagatose memiliki tingkat kemanisan sekitar 92 persen dari gula pasir. Teksturnya pun mirip, sehingga bisa memberikan bulk atau volume seperti gula dalam proses memasak.
Dari sisi kalori, tagatose mengandung sekitar 60 persen lebih sedikit dibanding sukrosa. Bahkan beberapa sumber menyebut kalorinya hanya sepertiga dari gula biasa.
Apa Dampak Tagatose terhadap Gula Darah dan Pencernaan?
Salah satu keunggulan utama tagatose adalah cara tubuh memprosesnya. Tagatose hanya sebagian diserap di usus halus, sementara sisanya difermentasi oleh bakteri baik di usus besar.
Karena mekanisme ini, lonjakan gula darah dan insulin setelah konsumsi tagatose jauh lebih rendah dibanding gula konvensional. Sejumlah studi klinis menunjukkan peningkatan glukosa darah yang sangat minimal.
Baca juga artikel yang membahas Efek Suntik Insulin yang Perlu Diwaspadai Penderita Diabetes
Tagatose telah mendapat status Generally Recognized as Safe (GRAS) dari FDA, setara dengan bahan dapur umum seperti garam dan cuka. Organisasi kesehatan internasional juga menganggapnya aman dikonsumsi dalam batas wajar.
Menariknya, tagatose juga dianggap ramah gigi. Tidak seperti sukrosa yang memberi makanan bagi bakteri penyebab gigi berlubang, tagatose justru berpotensi menekan pertumbuhan bakteri oral berbahaya dan mendukung mikrobioma mulut.
Melihat karakteristik rasa, kalori, serta dampaknya terhadap metabolisme, tagatose menjadi kandidat kuat sebagai pengganti gula yang lebih seimbang. Dengan terobosan produksi terbaru, pemanis alami ini berpeluang semakin mudah diakses dan digunakan secara luas di masa depan.
Dengan demikian, memahami apa itu tagatose membantu konsumen memilih alternatif gula yang lebih seimbang, aman, dan relevan dengan kebutuhan kesehatan masa kini. Tertarik mencobanya?