Studi Ungkap Rutinitas Olahraga Sejak Muda Bantu Mencegah Hipertensi
JAKARTA - Hipertensi atau tekanan darah tinggi saat ini masih menjadi salah satu masalah kesehatan serius di dunia. Data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menunjukkan lebih dari satu dari empat pria dan sekitar satu dari lima wanita hidup dengan hipertensi.
Di tengah tingginya angka tersebut, penelitian terus mencari cara yang efektif untuk menekan risiko hipertensi. Salah satu penelitian mengungkap bahwa aktivits fisik berperan penting dalam menekan risiko hipertensi.
Dikutip dari Science Alert, pada Senin, 26 Januari 2026, studi tersebut menyoroti satu hal penting, yakni manfaat perlindungan terhadap hipertensi tidak cukup dicapai dengan aktif bergerak di usia muda saja, tetapi perlu dipertahankan hingga usia dewasa.
Penelitian tersebut melibatkan lebih dari 5 ribu orang dewasa di empat kota di Amerika Serikat, yang melacak kondisi kesehatan peserta selama tiga dekage.
Para peneliti memantau tekanan darah secara berkala, sekaligus mencatat kebiasaan olahraga, merokok, dan konsumsi alkohol. Kemudian hasilnya menunjukkan pola yang konsisten.
Tingkat aktivitas fisik cenderung menurun tajam sejak usia 18 sampai 40 tahun, sedangkan angka hipertensi justru meningkat seiring bertambahnya usia.
Pola tersebut terlihat pada berbagai kelompok, baik pria maupun wanita, serta lintas ras. Dengan demikian, para peneliti menilai masa dewasa muda sebagai periode krusial untuk mencegah hipertensi di usia paruh baya.
Baca juga:
Hampir separuh peserta dalam penelitian tercatat memiliki tingkat aktivitas fisik yang kurang, dan kondisi tersebut berkaitan erat dengan munculnya tekanan darah tinggi di kemudian hari.
Namun, peserta yang melakukan olahraga intensitas sedang sekitar lima jam per minggu di usia dewasa awal, memiliki risiko hipertensi yang jauh lebih rendah.
“Memenuhi standar minimum aktivitas fisik mungkin belum cukup, meningkatkan durasi dan konsistensi olahraga sejak usia muda dapat menjadi strategi penting untuk menekan risiko hipertensi,” kata penulis utama studi, Jason Nagata.
Temuan ini memperkuat pesan bahwa menjaga tubuh tetap aktif bukan hanya tentang kebugaran dalam jangka pendek, melainkan untuk kesehatan tubuh yang jangka panjang.