Demi Hentikan Dominasi Indonesia, Ini Trik yang Dilakukan Thailand di APG 2025
JAKARTA - Thailand yang menjadi tuan rumah ASEAN Para Games 2025 berambisi menghentikan dominasi Indonesia. Trik-trik pun dilakukan meski harus melanggar regulasi yang berdampak Thailand merebut banyak medali emas.
Thailand sepertinya tak ingin kehilangan muka saat menjadi tuan rumah APG 2025. Hanya dominasi Indonesia memang termasuk kuat dan pada tiga edisi terakhir selalu berhasil menjadi juara umum.
Namun pada APG yang digelar di Thailand tahun ini, National Paralympic Committee (NPC) Indonesia bersikap realistis dengan tidak memasang target juara. NPC memperkirakan sulit membendung ambisi Thailand yang ingin kembali merebut juara umum.
Hanya saja, Thailand justru melakukan pelanggaran regulasi dalam perhelatan APG demi memenuhi target itu. Salah satu pelanggaran yang dilakukan seperti beberapa nomor pertandingan tetap digelar meski pesertanya hanya datang dari negara Thailand.
Pelanggaran regulasi tersebut ditemukan tim Chef de Mission (CdM) Indonesia setelah melihat ketimpangan medali Thailand dengan Indonesia dan delapan negara peserta lainnya. Pasalnya ada sederet pelanggaran regulasi yang membuat Thailand meraih medali dengan mudah.
“Kontingen Indonesia mencatat sejumlah temuan di lapangan yang perlu disampaikan secara terbuka, objektif, dan konstruktif. Ini sebagai bagian dari komitmen bersama terhadap prinsip fair play, kepatuhan regulasi, dan peningkatan kualitas kompetisi olahraga disabilitas di kawasan Asia di kemudian hari,” kata CdM Indonesia, Reda Manthovani, Sabtu, 24 Januari 2026.
Salah satu pelanggaran regulasi terjadi di cabang olahraga para tenis meja. Thailand terindikasi mendaftarkan atlet tidak sesuai klasifikasi resminya.
“Pada cabang olahraga para tenis meja, ada atlet Thailand yang ternyata memiliki klasifikasi internasional resmi di kelas TT4. Namun pada pelaksanaannya, atlet itu dipertandingkan di kelas TT5,” ujarnya.
“Kondisi tersebut tidak sejalan dengan regulasi internasional yang mengatur bahwa atlet harus bertanding sesuai dengan klasifikasi awal atau klasifikasi internasional resminya. Situasi ini berdampak langsung pada atlet-atlet indonesia yang bertanding di TT5,” kata Reda melanjutkan.
Pelanggaran regulasi lebih parah terjadi di cabor para balap sepeda dan para atletik. Beberapa nomor tetap dipertandingkan meski pesertanya hanya berasal dari Thailand. Padahal, sesuai regulasi yang berlaku, pertandingan bisa digelar jika diikuti minimal empat peserta dari sekurang-kurangnya dua negara.
“Pada nomor men's individual time trial dan men's road race, pertandingan tetap dilaksanakan meski hanya diikuti tiga atlet dan seluruhnya berasal dari satu negara, yaitu Thailand,” kata Reda.
"Hal serupa terjadi pada cabang olahraga para atletik. Beberapa nomor individu tetap dipertandingkan meskipun jumlah peserta berkisar antara satu hingga tiga atlet dan berasal dari negara yang sama, yaitu Thailand. Hal ini tentunya sangat berimbas pada perolehan medali yang berbeda jauh,” ucap Reda.
Kontingen Indonesia berharap temuan ini menjadi bagian dari evaluasi agar penyelenggaraan ASEAN Para Games selanjutnya berjalan sesuai peraturan dan menjadi pijakan awal untuk bersaing di level Asia dan dunia.
“Seluruh catatan ini sudah kami sampaikan secara resmi melalui mekanisme yang berlaku sebagai bentuk kontribusi kontingen Indonesia dalam menjaga integritas kompetisi, menjunjung tinggi sportivitas, serta mendorong perbaikan tata kelola penyelenggaraan multievent olahraga disabilitas di kawasan ASEAN di kemudian hari,” ujarnya.
Berbarengan dengan sikap terkait dengan adanya pelanggaran regulasi, Reda memastikan kontingen Indonesia tetap fokus 100 persen untuk meraih prestasi. Terbukti, Indonesia telah memenuhi target 82 emas. Kini, Indonesia sudah meraih 101 medali emas.
“Kami proyeksikan meraih 40 emas tambahan. Fokus utamanya tetap di cabor unggulan, seperti para atletik, para renang, para tenis meja, para catur dan para bulu tangkis,” ucap Reda.
Sementara itu, Wakil Sekretaris Jenderal (Wasekjen) National Paralympic Committee of Indonesia (NPC Indonesia), Rima Ferdianto, turut menyesalkan adanya pelanggaran regulasi yang terjadi di ajang APG 2025.
“Kali ini kami memiliki kendala di lapangan, seperti tidak standarisasi akomodasi, konsumsi dan tidak fair-nya tuan rumah dalam membuat peraturan. Bahkan, peraturan dasar dalam kejuaraan ini, yang harusnya ada atlet dari dua negara berbeda, itu saja dilanggar. Padahal itu adalah peraturan paling dasar dan itu dilanggar, yang membuat game ini tidak fair,” ucap Rima.
Namun, Rima menegaskan bahwa APG 2025 merupakan tahap krusial bagi atlet-atlet muda agar bisa berprestasi di Asian Para Games dan Paralimpiade. Menurut dia fokus meraih prestasi harus tetap terjaga, di tengah sikap Indonesia yang mengirimkan protes secara resmi.
Baca juga:
"Atlet-atlet muda yang kita kirimkan ke sini ternyata banyak yang melebihi target. Itu sudah membuat kita gembira. Kita berharap atlet-atlet yang dipersiapkan untuk regenerasi ini, dengan adanya fasilitas dari Kemenpora dan pengawasan dari Prof Reda, mereka yang tadinya masih berstatus atlet remaja akan berakselerasi menjadi atlet senior yang mapan prestasi. Dengan demikian mereka bisa lolos Paralimpiade Los Angeles 2028 dan berprestasi di Paralimpiade Brisbane 2032,” tutur Rima Ferdianto.
Hal yang sama diungkapkan Deputi Bidang Peningkatan Prestasi Olahraga Kemenpora, Surono. Ia mengapresiasi langkah CdM Reda Manthovani yang sudah melayangkan protes secara resmi, sembari tetap fokus menorehkan prestasi di Thailand.