Jaksa Agung Iran Bantah Klaim Trump Hentikan Eksekusi Hukuman Gantung 800 Demonstran
JAKARTA — Jaksa Agung Iran menyebut klaim berulang Presiden AS Donald Trump yang bakal menghentikan eksekusi gantung terhadap 800 demonstran yang ditahan, "sama sekali tidak benar."
Dilaporkan jumlah korban tewas secara keseluruhan akibat penindakan berdarah terhadap demonstrasi nasional meningkat menjadi setidaknya 5.032, kata para aktivis.
Para aktivis khawatir lebih banyak lagi yang tewas. Mereka kesulitan untuk mengkonfirmasi informasi karena pemadaman internet paling komprehensif dalam sejarah Iran telah melewati dua minggu.
Ketegangan tetap tinggi antara Amerika Serikat dan Iran karena kelompok kapal induk Amerika bergerak lebih dekat ke Timur Tengah, sesuatu yang disamakan Trump dengan "armada" dalam komentarnya kepada wartawan pada Kamis malam.
Para analis mengatakan peningkatan kekuatan militer dapat memberi Trump pilihan untuk melakukan serangan, meskipun sejauh ini ia telah menghindarinya meskipun telah berulang kali memperingatkan Teheran.
Eksekusi massal tahanan telah menjadi salah satu garis merahnya untuk penggunaan kekuatan militer — yang lainnya adalah pembunuhan demonstran damai.
“Meskipun Presiden Trump tampaknya telah menarik kembali pernyataannya, kemungkinan di bawah tekanan dari para pemimpin regional dan menyadari serangan udara saja tidak akan cukup untuk menjatuhkan rezim tersebut. Aset militer terus dipindahkan ke wilayah itu, yang menunjukkan aksi militer mungkin masih akan terjadi,” kata lembaga think tank yang berbasis di New York, Soufan Center, dalam analisis dilansir Associated Press, Sabtu, 24 Januari.
Trump berulang kali mengatakan Iran menghentikan eksekusi terhadap 800 orang yang ditahan dalam protes, tanpa menjelaskan sumber klaim tersebut.
Pada Jumat, jaksa agung Iran Mohammad Movahedi dengan tegas membantah hal itu dalam komentar yang dimuat oleh kantor berita Mizan milik kehakiman.
“Klaim ini sepenuhnya salah; tidak ada angka seperti itu, dan kehakiman juga tidak pernah membuat keputusan seperti itu,” kata Movahedi.
Pernyataannya menunjukkan Kementerian Luar Negeri Iran, yang dipimpin Abbas Araghchi, mungkin telah memberikan angka tersebut kepada Trump.
Araghchi memiliki jalur komunikasi langsung dengan utusan AS Steve Witkoff dan telah melakukan beberapa putaran negosiasi mengenai program nuklir Iran dengannya.