Main Musik hingga Gim Strategi Terbukti Menjaga Kesehatan Otak

JAKARTA - Menjalani hobi kreatif ternyata tidak hanya menyenangkan, tetapi juga berdampak besar bagi kesehatan otak. Sebuah studi mengungkap aktivitas seperti bermain musik, menari, melukis, hingga bermain gim strategi dapat membantu menjaga otak tetap tajam dan tampak lebih muda secara biologis.

Penelitian berskala besar ini melibatkan lebih dari 1.400 orang dewasa dari berbagai kelompok usia di 13 negara. Tim peneliti yang berasal dari sejumlah institusi ternama seperti Trinity College Dublin (Irlandia) dan SWPS University (Polandia) menemukan individu yang rutin menjalani hobi kreatif memiliki pola aktivitas otak menyerupai otak orang yang lebih muda.

“Hasil penelitian kami menunjukkan kreativitas berperan penting dalam menjaga kesehatan otak,” ujar Dr. Carlos Coronel, penulis utama studi sekaligus peneliti di Global Brain Health Institute, Trinity College Dublin, dikutip dari laman Fox News.

"Hal yang menarik, seseorang tidak perlu menjadi ahli untuk merasakan manfaatnya," tambahnya.

Dalam studi ini, para peneliti menganalisis data otak dari orang-orang yang berpengalaman di bidang tango, musik, seni visual, dan gim strategi. Selain itu, kelompok pemula juga dilibatkan, termasuk peserta yang baru belajar bermain gim strategiStarCraft IIselama beberapa minggu.

Seluruh peserta menjalani pemindaian otak menggunakan teknologi EEG dan MEG.

Data tersebut kemudian dianalisis dengan model kecerdasan buatan yang dikenal sebagai 'jam usia otak', yakni metode untuk memperkirakan usia biologis otak dibandingkan usia sebenarnya.

Hasilnya, mereka yang telah lama menekuni hobi kreatif menunjukkan penurunan usia otak paling signifikan.

Namun pemula pun tetap merasakan dampak positif. Bermain gim strategi selama sekitar 30 jam saja sudah cukup untuk meningkatkan indikator kesehatan otak.

“Kami melihat hingga pelatihan singkat mampu memperkuat jaringan otak yang berperan dalam perhatian, koordinasi, dan pemecahan masalah,” kata Coronel.

Peneliti senior Dr. Agustin Ibanez menilai temuan ini menempatkan kreativitas sejajar dengan faktor gaya hidup sehat lainnya.

"Kreativitas muncul sebagai penentu kuat kesehatan otak, setara dengan olahraga dan pola makan seimbang,” ujarnya.

Ia menambahkan hasil penelitian ini membuka peluang pengembangan program berbasis kreativitas untuk mencegah penuaan otak dan penyakit neurodegeneratif. Pendapat serupa disampaikan oleh Dr. Aneta Brzezicka dari SWPS University. Menurutnya aktivitas kreatif seharusnya mulai dipertimbangkan sebagai bagian dari program pendidikan dan layanan kesehatan.

"Hobi kreatif berpotensi menjadi alat sederhana namun efektif untuk mendukung kesehatan otak masyarakat,” katanya.

Meski demikian, para peneliti mengingatkan bahwa hasil ini masih memiliki keterbatasan. Sebagian besar peserta merupakan orang dewasa sehat, dan penelitian ini belum dilakukan dalam jangka panjang untuk memastikan dampaknya terhadap risiko demensia atau kemampuan fungsional sehari-hari.

Ahli saraf Dr. Jon Stewart Hao Dy yang tidak terlibat dalam penelitian tersebut mengatakan bahwa temuan ini tetap menjanjikan.

"Bukti menunjukkan aktivitas seperti menari, melukis, membuat kerajinan, hingga mengunjungi museum dapat membantu menjaga fungsi kognitif pada usia lanjut,” ujarnya.

Menurut Dy, tantangan berikutnya adalah menerjemahkan temuan ilmiah ini ke dalam kebijakan nyata.

"Ilmunya sudah cukup kuat. Sekarang tinggal bagaimana pemerintah dan institusi terkait mendukung dan mendanai program-program kreatif ini." katanya.

Kedepannya para peneliti berencana melakukan studi lanjutan yang lebih luas untuk mengaitkan usia otak dengan dampak nyata dalam kehidupan sehari-hari, seperti daya ingat, kemampuan berpikir, dan risiko penyakit di usia lanjut.