Istana Kirim Tiga Nama Calon Deputi Gubernur BI ke DPR, Ada Nama Thomas Djiwandono

JAKARTA - Istana Kepresidenan memastikan proses pengisian jabatan Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) resmi berjalan. Pemerintah telah mengirimkan Surat Presiden (Supres) ke DPR menyusul pengunduran diri salah satu deputi gubernur BI. Dari tiga nama yang diajukan, nama Thomas Djiwandono ikut masuk dalam radar pembahasan.

Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi menjelaskan, mekanisme pengisian jabatan tersebut dilakukan sesuai ketentuan perundang-undangan. Proses dimulai setelah surat pengunduran diri diterima pemerintah.

“Bermula dari adanya surat pengunduran diri salah satu Deputi Gubernur Bank Indonesia. Sesuai ketentuan, jabatan yang ditinggalkan harus segera diisi. Presiden kemudian mengirimkan Supres ke DPR,” kata Prasetyo di Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta, Senin, 19 Januari.

Menurut Prasetyo, kewenangan pemilihan berada di DPR melalui uji kelayakan dan kepatutan (fit and proper test). Pemerintah, kata dia, hanya mengusulkan nama-nama calon untuk kemudian diuji oleh parlemen.

“Ada beberapa nama yang dikirimkan. Salah satunya memang betul, Wamenkeu yang tadi disebutkan,” ujarnya.

Saat ditanya siapa pejabat BI yang mengundurkan diri, Prasetyo menyebut nama Yuda. Diketahui, ada anggota Dewan Gubernur BI bernama Juda Agung. Namun ketika diminta merinci tiga nama calon yang diusulkan, Prasetyo mengaku belum mengingat seluruhnya. “Nanti saya cek, saya tidak hafal,” katanya singkat.

Masuknya nama Thomas Djiwandono menjadi sorotan publik. Selain karena posisinya sebagai Wakil Menteri Keuangan, ia juga merupakan kepokan Presiden Prabowo Subianto yang pencalonannya dinilai strategis di tengah tantangan stabilitas moneter dan koordinasi fiskal–moneter yang kian ketat.

Selanjutnya, DPR akan menjadwalkan uji kelayakan terhadap para calon Deputi Gubernur Bank Indonesia yang diusulkan pemerintah. Hasil fit and proper test tersebut akan menjadi dasar penetapan pejabat definitif.