Setelah Balikpapan, Pemerintah Mau Gandeng Swasta Garap RDMP Dumai
BALIKPAPAN - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengungkapkan, setelah meresmikan Refinery Development Master Plan (RDMP) Balikpapan, Pertamina diminta untuk mencari mitra untuk menggarap proyek RDMP Kilang Dumai, Riau.
Dikatakan Bahlil, dirinya telah melakukan rapat dengan dewan direksi dan komisaris Pertamina dan telah diputuskan Pertamina akan segera bermitra dengan pihak swasta untuk memulai proyek RDMP Dumai.
“Kita memang selain di sini, kita akan mengembangkan untuk storage dan kapasitas-kapasitas RDMP lain seperti di Dumai,” ujar Bahlil kepada awak media, dikutip Selasa, 13 Januari.
Ia menjelaskan, alasan menggandeng swasta agar terjalin simbiosis mutualisme sehingga menguntungkan Pertamina, swasta dan pemerintah.
"Tujuannya apa? Pertamina dapat untung, negara punya ketahanan energi ada, swasta juga bisa mendapat kerja sama yang baik, yang saling menguntungkan,” sambung Bahlil.'
Asal tahu saja, Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto telah meresmikan Infrastruktur Energi Terintegrasi Refinery Development Master Plan (RDMP) Balikpapan pada Senin, 12 Januari.
Proyek yang menyerap investasi sekitar Rp123 triliun ini menjadi proyek RDMP terbesar di Indonesia. Program ini mampu mengerek produksi Kilang Balikpapan menjadi 360.000 barrel per hari, dari sebelumnya 260.000 barel
RDMP Balikpapan sendiri telah mencapai beberapa tonggak penting terkait penyelesaian unit dan fasilitas pendukung, di antaranya Single Point Mooring (SPM) atau dermaga terapung untuk sarana tambat kapal-kapal pengangkut minyak mentah berukuran raksasa. Selain itu, fasilitas utama kilang, yakni Crude Distillation Unit (CDU) dan Residual Fluid Catalytic Cracking (RFCC). Fasilitas CDU merupakan unit pengolah minyak mentah dengan proses distilasi, sementara RFCC mampu mengubah residu menjadi produk yang bernilai tinggi.
Baca juga:
Bagian lain dari RDMP adalah pembangunan dua tangki baru penyimpanan minyak mentah raksasa Lawe-lawe yang masing-masing kapasitasnya mencapai 1 juta barel.
Proyek ini juga terintegrasi dengan Pipa Gas Senipah – Balikpapan sepanjang 78 kilometer yang akan mengalirkan pasokan bahan baku energi ke dalam kilang. Sedangkan, Terminal BBM Tanjung Batu berkapasitas 125.000 kiloliter yang bisa melayani distribusi BBM untuk Indonesia bagian timur.