Saung Bakul Dorong UMKM Bambu Buniayu Naik Kelas Lewat Inovasi

TANGERANG – Di tengah makin langkanya kerajinan tangan di era modern, masyarakat Desa Buniayu, Kecamatan Sukamulya, Kabupaten Tangerang, masih konsisten melestarikan kerajinan bambu secara turun-temurun.

Di desa tersebut, warga mendirikan sentra kerajinan bambu bernama Saung Bakul. Selain menjadi pusat produksi UMKM, Saung Bakul juga difungsikan sebagai ruang edukasi bagi masyarakat dan generasi muda.

Salah satu penggerak kerajinan bambu, Murdani, mengatakan Saung Bakul dibangun sebagai upaya menjaga warisan budaya sekaligus meningkatkan kesejahteraan warga melalui kearifan lokal.

“Ini adalah tempat kami memulai kerajinan bambu. Di sini juga kami berupaya mensejahterakan masyarakat sekitar dengan kearifan lokal,” ujar pria yang akrab disapa Kang Dhany saat konferensi pers kegiatan Story of Buniayu yang digelar mahasiswa Kelas Internasional London School of Public Relations (LSPR) Angkatan 27 di Saung Bakul, Sabtu 10 Januari.

Dhany mengaku telah mengenal anyaman bambu sejak kecil. Namun, upaya pelestarian secara lebih serius baru dilakukan pada 2021, bertepatan dengan masa pandemi Covid-19. Saat itu, ia bersama warga mulai membangun sentra UMKM untuk menjaga keberlangsungan kerajinan bambu di Buniayu.

Sekitar setahun berselang, pemerintah setempat menetapkan Saung Bakul sebagai sentra edukasi. Sejak itu, berbagai pelatihan dan pengembangan produk terus dilakukan, termasuk inovasi kerajinan bambu ke sektor fesyen.

“Awalnya produk kami hanya sebatas anyaman untuk alat-alat rumah tangga. Melalui berbagai kegiatan, kami mencoba berinovasi, salah satunya membuat peci dari anyaman bambu,” jelas Dhany.

Ia menyebut produk Saung Bakul mulai dikenal di sejumlah daerah di Indonesia. Meski demikian, tantangan terbesar masih terletak pada pengembangan pemasaran, khususnya pemanfaatan teknologi digital.

Dhany mengapresiasi kolaborasi dengan LSPR yang memberikan pelatihan digital dan pengembangan produk kepada para pengrajin. Menurutnya, pendampingan ini penting karena sebagian besar pengrajin berusia di atas 35 tahun dan belum terbiasa dengan digitalisasi.

“Pengrajin di Buniayu rata-rata berusia 35 hingga 50 tahun. Peserta yang hadir hari ini sebagian besar adalah putra-putri pengrajin, sehingga kami berharap ada regenerasi,” ujarnya.

Ia berharap kerja sama tersebut dapat membantu memperluas pasar produk Saung Bakul hingga tingkat nasional dan internasional, sekaligus meningkatkan perekonomian masyarakat desa.

Sementara itu, Ketua Penyelenggara Story of Buniayu, Moza Febrianita, mengatakan kegiatan tersebut bertujuan mendorong penguatan UMKM dan keberlanjutan produk tradisional melalui pelatihan digital serta pengembangan desain.

“Kami ingin memperkuat promosi digital, meningkatkan mutu desain, dan mendorong daya saing pengrajin lokal agar produk anyaman bambu Buniayu bisa dikenal hingga pasar internasional,” kata Moza.

Ia menambahkan, sebagai generasi muda, mahasiswa LSPR mencoba menghadirkan inovasi agar produk anyaman bambu tetap relevan dengan tren masa kini, khususnya di bidang fesyen.

“Kami ingin Desa Buniayu lebih dikenal lewat inovasi fesyen. Pengrajin terbiasa menggunakan bahan tradisional, sementara kami mencoba mengembangkan dari sudut pandang Gen Z,” ujarnya.

Moza berharap kolaborasi tersebut dapat melahirkan produk anyaman bambu yang lebih beragam, meningkatkan kesejahteraan masyarakat, serta memastikan tradisi kerajinan bambu tetap lestari di kalangan generasi muda Desa Buniayu.