Apa Itu Superflu yang Picu Kasus Influenza Tinggi?

YOGYAKARTA – Masyarakat diminta untuk mewaspadai kasus influenza yang menjadi pemicu infeksi di saluran pernapasan akut. Di berbagai media, kasus influenza tersebut diwakili oleh istilah superflu. Superflu dinilai perlu diwaspadai lantaran tingkat penularannya cukup tinggi, terutama di wilayah dingin. Untuk memahami apa itu superflu simak artikel berikut ini.

Mengenal Apa Itu Superflu

Dilansir dari Antara, superflu adalah bagian dari virus influenza H3N2 varian subclade K, yakni virus flu yang yang muncul secara musiman. Kasus infeksi influenza tersebut meningkat di musim dingin antara Oktober hingga Februari.

Di beberapa pemberitaan, superflu disebut menjadi biangkerok naiknya kasus influenza di beberapa negara, salah satunya di Amerika dan negara lain di belahan bumi utara yang sedang memasuki musim dingin.

Meski banyak diberitakan sebagai pemicu kasus influenza akhir-akhir ini, tidak ada indikasi bahwa superflu yang masuk dalam subklade K itu lebih berbahasa dari virus influenza H3N2 lain yang beredar, demikian dilansir dari aliansi vaksin, GAVI.

Terkait kondisi tersebut, Anggota Unit Kerja Koordinasi Respirologi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Dr. dr. Nastiti Kaswandani Sp.A(K) menjelaskan bahwa dugaan penggunaan istilah superflu pada varian virus unfluenza ini adalah kaena penularannya yang sangat cepat. Ia menggambarkan satu orang yang terinfeksi bisa menular hingga 3 orang sekitarnya.

Ia juga menjelaskan bahwa H3N2 mampu berevolusi dan bermutasi, hingga mampu memicu epidemi. Saat itu terjadi tentu akan melahirkan efek berantai seperti peningkatan perawatan pasien di rumah sakit dan berdampak pada kenaikan kebutuhan alat kesehatan dan obat-obatan.

Gejala Superflu

Menurut penjelasan dr. Nastiti, gejala pasien yang terinfeksi superflu sebenarnya sama dengan gejala influienza A secara umum. Beberapa gejala yang mungkin dirasakan adalah demam tinggi, menggugul, pusing, nyeri tenggorokan, atau gejala pilek.

“Kalau kita dalami lebih lanjut mengenai subclade K ini dia bagian atau varian dari flu A H3N2 dia tidak bisa dideteksi secara klinis, artinya dokter kalau melihat saja bahkan tidak bisa membedakan ini influenza atau bukan influenza, hanya mungkin bisa menduga ini secara klinis mirip influenza,” jelasnya, dikutip Selasa, 30 Desember.

Serupa, gejala superflu juga dijelaskan dalam situs resmi The British Institute of Cleaning Science. Gejala yang ditunjukan oleh penderita superflu memang sama. Dalam situs yang sama juga dikatakan bahwa ada beberapa kelompok masyarakat yang berpeluang besar terinfeksi superflu yakni sebagai berikut.

  • Wanita hamil
  • Anak usia 2 atau 3 tahun
  • Lansia di atas usia 65 tahun ke atas
  • Orang dewasa yang masuk dalam kelompok risiko klinis
  • Orang dengan kondisi medis dengan perawatan jangka panjang.

Itulah informasi terkait apa itu superflu. Kunjungi VOI.id untuk mendapatkan informasi menarik lainnya.