Presiden Trump akan Bahas Gencatan Senjata Gaza hingga Nuklir Iran dengan Netanyahu Pekan Depan
JAKARTA - Presiden Amerika Serikat Donald Trump direncanakan membahas masalah nuklir Iran hingga Jalur Gaza, Palestina dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu pekan depan.
Berbicara pada konferensi pers bersama dengan Perdana Menteri Yunani Kyriakos Mitsotakis dan Presiden Siprus Nikos Christodoulides di Yerusalem Hari Senin, PM Netanyahu mengatakan Israel mengetahui Iran telah melakukan "latihan" baru-baru ini, tanpa memberikan penjelasan lebih lanjut.
Meskipun ada "pencapaian besar" selama perang 12 hari dengan Iran pada Bulan Juni, PM Netanyahu mengatakan harapan dasar Israel dan AS terhadap Iran tetap tidak berubah, termasuk menurunkan tingkat pengayaan uraniumnya.
"Jelas itu akan menjadi salah satu poin dalam diskusi kami," katanya tentang pertemuannya dengan Presiden Trump minggu depan, menambahkan, "Kami tidak mencari konfrontasi dengan" Iran, melainkan, "stabilitas, kemakmuran, dan perdamaian," seperti melansir Al Arabiya dan Reuters (23/12).
Sebelumnya pada Hari Senin, media pemerintah Iran melaporkan bahwa Iran telah mengadakan latihan rudal di berbagai kota sepanjang hari, latihan kedua yang dilaporkan dalam sebulan terakhir.
Negara-negara Barat menganggap persenjataan rudal balistik Iran sebagai ancaman militer konvensional terhadap stabilitas Timur Tengah dan mekanisme pengiriman senjata nuklir jika Teheran mengembangkannya. Iran membantah niat untuk membangun bom atom.
Baca juga:
- Rusia Tegaskan Kembali Tidak Ada Rencana Menyerang Negara Anggota Uni Eropa dan NATO
- Kementerian Luar Negeri Iran Tegaskan Program Rudal Negara Itu Bersifat Defensif
- Menteri Sayap Kanan Israel Usulkan Penjara Dikelilingi Buaya untuk Tahanan Palestina
- Sekjen NATO Peringatkan Rusia Bisa Membuat Eropa Sibuk Jika China Menyerang Taiwan
Kendati demikian, Netanyahu mengatakan fokus diskusinya dengan Presiden Trump di Washington akan tertuju pada langkah selanjutnya dari rencana Gaza Presiden Trump serta menangani militan Hizbullah yang didukung Iran di Lebanon.
Ia menyebutkan "keinginan Israel untuk melihat Lebanon yang berdaulat dan stabil" dan upaya untuk mencegah pemblokiran pengiriman internasional oleh milisi Houthi Yaman yang didukung Iran.