21 Orang Tewas Usai Banjir Bandang Terjang Maroko, Warga Pertanyakan Lambannya Gerak Pemerintah

JAKARTA - Sedikitnya 21 orang tewas usai banjir bandang menerjang kota pesisir Safi, Maroko, pada Minggu 14 Desember. 

AFP melaporkan pada Senin 15 Desember terdapat 32 orang lainnya terluka dibawa ke rumah sakit dengan sebagian besar korban telah dipulangkan.

Banjir bandang itu juga merendam 70 rumah dan ruko bisnis di kota tua bersejarah tersebut.

Jalan-jalan menuju dan dari kota pelabuhan di pantai Atlantik itu terputus digenangi banjir tidak dapat dilalui kendaraan 

“Ini hari yang kelam,” kata warga Hamza Chdouani.

Menjelang Minggu malam waktu setempat, permukaan air telah surut, sehingga warga harus mencari barang-barang mereka di tengah material lumpur sisa banjir bandang.

Warga lainnya, Marouane Tamer, mempertanyakan mengapa pemerintah belum mengirimkan alat atau truk untuk memompa air keluar.

Sementara tim SAR masih mencari kemungkinan korban lain.

Badan cuaca Maroko memperkirakan potensi hujan lebat akan kembali turun di seluruh negeri pada Selasa besok.

Cuaca ekstrem dan banjir bukanlah hal yang jarang terjadi di Maroko. Negara di Afrika itu diketahui kerap berjuang melawan kekeringan parah pada 2025 untuk tahun ketujuh berturut-turut.

Direktorat Jenderal Meteorologi (DGM) mengatakan tahun 2024 adalah tahun terpanas di Maroko dalam catatan sejarah, dengan mencatat defisit curah hujan rata-rata -24,7 persen.

Musim gugur di Maroko biasanya ditandai dengan penurunan suhu secara bertahap, tetapi perubahan iklim telah memengaruhi pola cuaca dan membuat badai lebih intens karena atmosfer yang lebih hangat menampung lebih banyak uap air dan laut yang lebih hangat dapat mempercepat sistem tersebut.