Bukan Hanya Hindu-Buddha? Bongkar Bagaimana Corak Agama yang Dianut di Kerajaan Tarumanegara Sesungguhnya!
YOGYAKARTA - Banyak yang penasaran, bagaimana corak agama yang dianut di Kerajaan Tarumanegara sehingga memengaruhi peradaban Jawa kuno. Kerajaan ini mewariskan sejumlah prasasti penting yang menjadi petunjuk utama.
Penelitian mendalam menunjukkan adanya perpaduan kepercayaan yang unik. Mari kita telusuri bukti-bukti sejarah dan arkeologis yang mengungkap sinkretisme keagamaan di Tarumanegara.
Berikut ini VOI sarikan beberapa poin penting terkait agama pada masa Kerajaan Tarumanegara, berdasarkan dari dua sumber utama yaitu; temuan arkeologis Kompleks Batujaya yang mengindikasikan kehadiran Hindu dan Buddha karya Arip Munawir, dan Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra, Volume 23 Issue 2, October 2023.
Bagaimana Corak Agama yang Dianut di Kerajaan Tarumanegara?
Dominasi Hindu, dari Raja hingga Prasasti
Corak keagamaan Tarumanegara diketahui didominasi oleh Agama Hindu, khususnya aliran Waisnawa (pemuja Dewa Wisnu), terutama di kalangan istana. Bukti paling kuat berasal dari peninggalan berupa lima inskripsi yang beraksara Palawa dan berbahasa Sansekerta.
Nah, berdasarkan catatan ahli sejarah, agama resmi pada masa awal Kerajaan Tarumanegara (setidaknya yang dianut oleh rajanya) adalah Agama Weda yang kemudian berkembang menjadi Hindu. Hal ini diperkuat dengan penggunaan gelar raja yang berakhiran ‘warman’ (seperti Purnawarman).
Kemudian ada bukti paling ikonik yaitu Prasasti Ciaruteun. Jejak kaki Raja Purnawarman di prasasti ini diibaratkan sebagai kaki Dewa Wisnu, yang menunjukkan pengagungan terhadap dewa pemelihara alam semesta tersebut.
Selain itu, ada Prasasti Tugu yang menyebutkan hadiah 1.000 ekor sapi kepada kaum Brahmana, menggarisbawahi peran penting kasta agamawan Hindu dalam kerajaan.
Toponimi yang Mengarah pada Teologi Hindu
Menariknya, asal kata nama kerajaan juga mengarah pada aspek spiritualitas Hindu. Kata 'tarum' (nama sungai utama, Citarum) berasal dari bahasa Sansekerta 'taru' (pohon).
Baca juga artikel sejarah mengenai Kerajaan Hindu Tertua di Indonesia Ternyata Bukan Kutai? Begini Penjelasannya
Secara literal, 'tarum' diartikan sebagai 'yang seperti pohon,' yang merupakan konsepsi teologi dan spiritualitas pada periode Hindu-Buddha.
Konsep semacam inilah yang kemudian merujuk pada Tuhan atau Dharma sebagai landasan pengharapan, menegaskan bahwa landasan kerajaan adalah Sanata Dharma atau Hindu.
Kehadiran dan Pengaruh Agama Buddha
Meskipun Hindu dominan di pusat kerajaan, namun agama Buddha juga telah hadir dan berkembang di wilayah Tarumanegara.
Teori ini didasari oleh berita Tiongkok tertua yang mencatat Kerajaan Tarumanegara yang disampaikan oleh Fa Shien pada 414 M. Ia mengatakan bahwa Ye-poti (Jawa Dwipa/Taruma) sangat sedikit pemeluk agama Buddha, tetapi banyak ditemukan para Brahmana.
Fakta ini menunjukkan bahwa pada abad ke-5 M, Buddha memang agama minoritas. Namun, temuan arkeologis di Kompleks Percandian Batujaya di pantai utara Jawa Barat mengubah pandangan ini.
Penelitian di Batujaya telah menemukan banyak struktur candi, kolam, dan vitive tablet yang secara jelas mencirikan pengaruh agama Buddha.
Diperkirakan, fase pertama pembangunan Batujaya (abad ke-6 hingga ke-7 M) terjadi pada masa Kerajaan Tarumanegara, yang menandakan kawasan ini kemungkinan merupakan salah satu pusat keagamaan Buddha yang penting.
Corak Sinkretisme
Jadi, bagaimana dengan corak agama yang dianut di Kerajaan Tarumanegara? Jawabannya adalah sinkretisme yaitu perpaduan antara tiga unsur: Hindu (dominan di istana), Buddha (berkembang pesat di wilayah pesisir seperti Batujaya), dan kepercayaan lokal (animisme dan dinamisme) yang tidak hilang sepenuhnya.
Dengan demikian, corak keagamaan Tarumanegara bersifat inklusif dan adaptif. Dimana raja menjunjung tinggi Hindu sebagai landasan negara, sementara memberikan ruang bagi perkembangan Buddha.
Baca juga:
Menariknya, perpaduan ini menjadi warisan penting yang memengaruhi kerajaan-kerajaan Sunda dan Jawa setelahnya, membentuk landasan budaya keagamaan Nusantara yang majemuk.
Kesimpulannya, bagaimana corak agama yang dianut di kerajaan tarumanegara adalah perpaduan Hindu Waisnawa, Buddha pesisir, dan kepercayaan lokal. Inklusivitas ini membentuk landasan spiritual yang adaptif bagi peradaban Jawa kuno.