Purbaya: Ketidakpastian Global Mereda, Sinyal Positif untuk Ekonomi Dunia
JAKARTA - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyampaikan bahwa hingga saat ini ketidakpastian global masih berlanjut. Namun, tensi antara Amerika Serikat dan Tiongkok mulai mereda, serta The Fed telah menurunkan reference rate untuk kedua kalinya pada tahun ini, kondisi tersebut memberikan sinyal positif bagi stabilitas ekonomi global.
"Hal ini memberikan sinyal positif bagi stabilitas ekonomi global, Permintaan global juga masih terjaga, aktivitas manufaktur global pada Oktober 2025 masih ekspansi dengan PMI sebesar 50,8, sementara Indonesia berada di level yang lebih tinggi yaitu 51,2," jelasnya dalam konferensi pers, 20 November.
Di sisi lain, ia memengatakan ekonomi Tiongkok masih mengalami perlambatan pada kuartal ketiga. Meski demikian, kawasan Asia Tenggara, termasuk Indonesia, tetap menunjukkan ketahanan.
Purbaya menyampaikan harga komoditas juga bergerak fluktuatif dimana batu bara, minyak, dan nikel melemah secara year on year. Namun, secara month on month, harga batu bara menguat menjadi sekitar 109,5 dolar AS per ton seiring meningkatnya permintaan dari negara-negara importir utama.
Sementara harga minyak Brent naik tipis secara month on month, tetapi masih melemah secara year on year.
"Saat ini harga minyak berada di sekitar 63,6 dolar per barrel akibat risiko geopolitik dan surplus produksi OPEC+," tuturnya.
Baca juga:
Sementara itu, ia menyampaikan harga tembaga dan CPO menunjukkan tren penguatan secara year on year.
Menurutnya kenaikan harga tembaga terutama dipengaruhi kekhawatiran atas pengetatan pasokan serta berakhirnya government shutdown di Amerika Serikat.
Purbaya menyampaikan bahwa pergerakan harga komoditas ini turut berdampak pada kinerja ekspor Indonesia dan penerimaan APBN.
"Sampai dengan bulan November 2025 pertengahan, dinamika global terlihat mulai bersentimen positif. Hal ini didukung meredanya tenasi perang, dagang, serta penurunan bunga acuan Federal Reserve," jelasnya.