Mobil Nasional
Sinyal menggema dari panggung otomotif nasional. Di ajang GIIAS 2025, disebut-sebut, satu "calon mobil nasional" menampakkan diri sebagai bayangan masa depan. Desain konsep bernama i2C hasil kolaborasi PT Teknologi Mobilitas Indonesia (TMI) dan rumah desain Italia, menandai babak baru narasi mobil buatan Indonesia.
Presiden Prabowo Subianto menyampaikan bahwa Indonesia akan memiliki mobil buatan sendiri dalam tiga tahun ke depan. Pidato itu disampaikan saat sidang kabinet. Komitmen itu segera diikuti Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita yang mengajukan agar proyek mobil nasional masuk daftar Proyek Strategis Nasional (PSN).
Namun, sejarah panjang kegagalan proyek serupa membuat publik bertanya: apakah janji ini akan bernasib serupa? Tentu masih kuat dalam ingatan publik. Proyek Timor, Bimantara, dan Maleo sempat mencuat. Timor bahkan sempat dipasarkan, namun akhirnya kandas akibat krisis moneter dan gugatan WTO karena dianggap menyimpang dari mekanisme perdagangan bebas. Maleo, yang digagas mantan Presiden BJ Habibie, gagal akibat tekanan politik era Orde Baru. Atau juga Esemka yang digadang Presiden Jokowi namun sampai ia lengser tidak juga keliatan wujudnya.
BJ Habibie sendiri pernah skeptis terhadap mobil Esemka. Ia menilai mobil itu bukan produk industri nasional yang serius dan lebih bersifat politis. Namun, kutipan langsung oleh BJ Habibie yang menyebut "omong kosong" harus dibaca sebagai kritik terhadap klaim nasionalisme tanpa substansi industri.
Ekonom INDEF, Nailul Huda, menilai pengajuan mobil nasional sebagai PSN adalah langkah tepat agar proyek ini mendapat perhatian pemerintah dan alokasi APBN. Namun, ia juga mengingatkan perlunya struktur pengelolaan yang jelas agar proyek tidak sekadar menjadi proyek mercusuar.
Pengamat otomotif dari ITB, Yannes Martinus Pasaribu, memberi catatan penting: proyek mobil nasional bisa sukses, tetapi harus berbasis teknologi dan inovasi lokal, bukan sekadar rebadging atau mengganti merek mobil asing dengan label Indonesia. Ia menegaskan pentingnya fokus pada mobil listrik (EV), membangun ekosistem industri komponen lokal dan menyiapkan SDM unggul. Tanpa itu, proyek hanya jadi gimmick nasionalisme.
Baca juga:
Kemunculan i2C memang memantik optimisme. Namun mobil konsep bukan berarti siap produksi massal. Dibutuhkan investasi besar, sertifikasi, dan pasar yang matang. Tanpa ekosistem pendukung, mobil nasional akan jadi ikon pameran saja.
Proyek ini berpotensi menyerap tenaga kerja dan mengurangi impor komponen otomotif. Industri otomotif diproyeksikan menyerap 1,1 juta tenaga kerja langsung dan tidak langsung. Namun, jika gagal, ia akan menjadi simbol kegagalan tata kelola dan mimpi industri yang kandas.
Indonesia tidak butuh janji baru. Kita butuh eksekusi. Jika benar ingin membangun mobil nasional, maka harus ada peta jalan yang jelas, investasi jangka panjang, dan komitmen lintas pemerintahan. Jika tidak, proyek ini akan jadi catatan baru dalam sejarah kegagalan ambisi industri nasional.
Bayangkan lima tahun lagi, Anda ke showroom dan melihat mobil dengan label "95% buatan lokal". Sekarang, bayangkan sebaliknya: merek Indonesia tapi isi dari luar semua. Kenyataan mana yang akan kita hadapi?
Hanya waktu yang bisa menjawab. Apakah kita akan mengawal proyek ini dengan kritis dan konsisten, atau membiarkannya kembali menjadi mimpi tanpa mesin.