Kementerian Kebudayaan Gelar Kenduri Budaya Pangan Lokal, Dorong Pangan Nusantara untuk Kedaulatan dan Keberlanjutan

JAKARTA - Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia menggelar Kenduri Budaya Pangan Lokal Nusantara di Museum Nasional Indonesia, Jakarta, 13–19 Oktober 2025. Mengusung tema “Menabur Benih, Menuai Kehidupan”, acara ini memperingati Hari Pangan Internasional sekaligus menjadi bagian dari Gerakan Pangan Lokal Nusantara, inisiatif budaya untuk mengangkat kearifan lokal dan keberagaman pangan tradisional Indonesia.

Menteri Kebudayaan Fadli Zon menegaskan, pangan bukan hanya soal kebutuhan fisik, tetapi juga identitas bangsa.

 “Pangan lokal kita adalah warisan budaya, cermin tradisi dan jati diri bangsa. Setiap daerah memiliki sistem budaya pangan yang lahir dari interaksi panjang antara manusia, alam, dan kepercayaan leluhur,” ujarnya saat membuka acara di Museum Nasional Indonesia, Jakarta, Senin, 13 Oktober.

Filosofi kenduri, lanjutnya, menggambarkan semangat syukur dan kebersamaan. Tradisi itu kini menjadi simbol penting dalam menjaga kelestarian pangan lokal dan kesehatan generasi bangsa.

Menurut Fadli Zon, di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto, isu pangan menjadi prioritas nasional. “Swasembada pangan, energi, hilirisasi, dan Makan Bergizi Gratis adalah langkah strategis menuju Indonesia Emas 2045,” jelasnya.

Gerakan Pangan Lokal Nusantara, tambahnya, sejalan dengan Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya Zero Hunger, Good Health and Wellbeing, dan Responsible Consumption and Production.

 “Melestarikan budaya pangan lokal berarti memperkuat kedaulatan dan ketahanan pangan nasional di tengah tantangan global seperti perubahan iklim dan ketergantungan impor,” tegas Fadli Zon.

Kurator kegiatan, Meilati Batubara, menjelaskan bahwa Kenduri Budaya menghadirkan pameran, lokakarya, pasar rakyat, dan diskusi kebudayaan dengan melibatkan masyarakat adat dari berbagai daerah.

“Bagian paling penting dari kenduri ini adalah kehadiran masyarakat adat di Jakarta. Mereka akan mendapat pembekalan tentang pelestarian budaya pangan di daerah masing-masing,” katanya.

Acara pembukaan ikut dihadiri Wamenbud Giring Ganesha, jajaran pejabat kementerian, dan tokoh budaya nasional.

Direktur Eksekutif Badan Pengelola Usaha Museum dan Cagar Budaya, Esti Nurjadin, menambahkan, pameran “Semai: Menabur Benih, Menuai Kehidupan” menampilkan 163 benda budaya terkait pangan—120 koleksi Museum Nasional dan 43 dari Fadli Zon Library.

“Pameran ini menjadi ruang refleksi antara seni, budaya, dan kesadaran ekologis. Kita diajak menengok kembali hubungan manusia dengan sumber pangan sebagai warisan dan identitas,” ungkapnya.

Menutup acara, Fadli Zon menegaskan komitmen melestarikan budaya pangan lokal bersama masyarakat adat.

 “Pangan lokal, jika dikembangkan serius, bisa menjadi ekosistem ekonomi budaya dan diplomasi kuliner Indonesia di mata dunia,” pungkasnya.