MBG Bukan Sekadar Proyek Makan Siang, Membuka Jalan Bagi UMKM

JAKARTA – Setiap piring makanan bergizi yang tersaji di sekolah membawa lebih dari sekadar rasa kenyang. Di baliknya, ada kerja bersama ribuan tangan rakyat. Seperti petani yang menanam, nelayan, hingga para ibu dapur yang memasak dengan sepenuh hati. Semua itu berpadu dalam satu tujuan, membangun masa depan anak Indonesia yang sehat dan cerdas lewat Program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Direktur Eksekutif Veritas Institut, Aldi Tahir, menilai langkah cepat Presiden Prabowo Subianto dalam merespons insiden teknis pada pelaksanaan program MBG menunjukkan kepemimpinan yang tanggap, solutif, dan berjiwa besar.

“Respon cepat Presiden Prabowo memperlihatkan kepemimpinan yang bertanggung jawab. Beliau tidak menutup mata terhadap masalah, tapi segera memerintahkan evaluasi total untuk memperkuat sistem pengawasan dan sertifikasi dapur penyedia makanan,” ujar Aldi dalam keterangannya, Selasa, 7 Oktober.

Menurutnya, MBG tak bisa diukur dari satu-dua kendala di lapangan. Program ini adalah investasi sosial jangka panjang, bukan sekadar proyek makan siang.

“Kita bicara tentang masa depan anak-anak Indonesia. Jadi jangan dipolitisasi. Fokusnya adalah memperbaiki tata kelola dan memastikan manfaatnya terus berlanjut,” tegasnya.

Hingga Juni 2025, program MBG telah menjangkau lebih dari 5,2 juta penerima manfaat, mulai dari anak-anak usia PAUD hingga ibu hamil dan menyusui.

MBG, dianggap membuka jalan bagi UMKM dan koperasi lokal untuk ikut berperan. Bahan pangan yang disajikan di sekolah berasal dari petani, nelayan, dan pelaku usaha mikro di daerah.

“Efek ekonominya terasa langsung. MBG menggerakkan rantai pasok lokal, dari petani ke dapur sekolah, dari nelayan ke penyedia bahan olahan. Ini bentuk nyata gotong royong ekonomi rakyat yang hidup,” ujarnya.

Aldi memuji keberanian Presiden Prabowo yang memilih memperbaiki sistem tanpa menghentikan program. Langkah itu, katanya, menunjukkan bahwa MBG bukan janji politik, tetapi komitmen moral negara terhadap masa depan generasi emas Indonesia.

“Presiden tidak mencari kambing hitam, tapi langsung bertindak memperkuat pengawasan dan memperbaiki manajemen dapur. Itu gaya kepemimpinan yang solutif. Pemerintah bekerja cepat agar anak-anak tetap bisa menikmati makanan bergizi tanpa gangguan,” ucapnya.

Veritas Institut menilai MBG sebagai salah satu program sosial paling progresif di era pemerintahan saat ini, karena mampu menyatukan tiga hal sekaligus: peningkatan gizi anak, pemerataan ekonomi rakyat, dan penguatan sumber daya manusia bangsa.

“Setiap piring makan bergizi yang tersaji di sekolah adalah wujud nyata kerja bersama rakyat. Di situlah makna pembangunan inklusif sesungguhnya,” tutupnya.