Jangan Sepelekan Campak, Ini Gejala, Penyebab hingga Langkah Pencegahannya

JAKARTA - Kasus kematian akibat campak kembali menggemparkan Indonesia. Di Kabupaten Sumenep, Madura, sebanyak 20 anak dilaporkan meninggal dunia akibat campak sejak Februari hingga Agustus 2025.

Angka ini menjadi alarm serius bagi pemerintah dan masyarakat, mengingat campak merupakan salah satu penyakit yang paling menular di dunia.

Menteri Kesehatan RI, Budi Gunadi Sadikin, dalam kunjungannya ke Sumenep, Madura, Jawa Timur pada Kamis, 28 Agustus 2025 menegaskan bahwa campak memiliki tingkat penularan yang sangat tinggi.

"Campak itu satu orang bisa menularkan ke 18. Jadi memang penyakit ini yang paling menular," ujarnya, dikutip dari laman Kemenkes pada Sabtu, 30 Agustus 2025.

Meski demikian, Menkes menegaskan campak bisa dicegah dengan vaksinasi yang sangat efektif. Namun, masih banyak anak yang belum mendapat imunisasi lengkap sehingga risiko wabah semakin besar.

Dilansir dari laman Mayo Clinic, campak atau dikenal juga dengan sebutan rubeola, adalah penyakit infeksi akibat virus yang menular melalui udara maupun kontak dengan benda yang terkontaminasi. Penyakit ini paling sering menyerang anak-anak, tetapi orang dewasa juga bisa tertular bila belum pernah divaksin.

Sebagian besar penderita memang bisa sembuh dalam 7–10 hari, namun campak tetap berbahaya karena dapat menimbulkan komplikasi serius hingga kematian, terutama pada anak balita dan orang dengan sistem imun lemah.

Gejala

Gejala campak biasanya muncul 7–14 hari setelah terpapar virus. Beberapa tanda yang perlu diwaspadai antara lain:

- Demam tinggi hingga 40–41°C.

- Batuk kering.

- Pilek.

- Mata merah dan berair (konjungtivitis).

- Bintik putih kecil di dalam mulut (disebut bintik Koplik), biasanya muncul 2–3 hari setelah gejala awal.

- Ruam bintik-bintik merah yang mulai muncul di wajah dan belakang telinga, lalu menyebar ke dada, punggung, hingga kaki.

Hal yang perlu diingat, penderita campak bisa menularkan virus 4 hari sebelum ruam muncul hingga 4 hari setelahnya. Artinya, campak bisa menyebar bahkan sebelum penderita sadar bahwa dirinya sakit.

Penyebab & Faktor Risiko

Campak disebabkan oleh virus campak yang hanya menular antar manusia. Penularannya terjadi ketika penderita batuk, bersin, atau berbicara, lalu droplet masuk ke udara dan terhirup orang lain. Virus juga bisa menempel di permukaan benda dan bertahan hingga dua jam.

Faktor risiko paling tinggi:

- Belum pernah divaksin atau hanya mendapat satu dosis vaksin.

- Tinggal di daerah dengan wabah campak.

- Anak-anak yang belum cukup umur untuk mendapat vaksin.

- Orang dengan daya tahan tubuh lemah, misalnya penderita gizi buruk atau penyakit tertentu.

Pengobatan

Hingga kini, tidak ada obat khusus untuk membunuh virus campak. Pengobatan dilakukan untuk meringankan gejala dan mencegah komplikasi, antara lain:

- Istirahat cukup dan menjaga asupan cairan untuk mencegah dehidrasi.

- Obat penurun demam sesuai anjuran dokter.

- Suplementasi vitamin A, yang terbukti dapat mengurangi risiko komplikasi berat.

- Perawatan di rumah sakit bila terjadi komplikasi seperti pneumonia atau radang otak.

Pencegahan

Pencegahan terbaik adalah dengan vaksinasi. Vaksin MMR (Measles, Mumps, Rubella) atau MMRV (termasuk varisela/cacar air) terbukti efektif hingga 97% bila diberikan lengkap dua dosis.

Jadwal vaksinasi campak:

- Dosis pertama: usia 12–15 bulan.

- Dosis kedua: usia 4–6 tahun.

Bayi usia 6–11 bulan bisa mendapat vaksin lebih awal bila berada di daerah dengan wabah campak. Sementara bagi orang dewasa yang belum pernah divaksin atau hanya mendapat satu dosis, sebaiknya melengkapi vaksinasi terutama bila sering bepergian atau bekerja di lingkungan berisiko tinggi.

Ilustrasi campak (Foto: Freepik/maisheva_natalya)