Harmoni Zaman Hadirkan Lima Penyanyi yang Jadi Ikon Lagu Anak Era 70-80an

JAKARTA — Lima sosok yang membawa kenangan masa kecil era 70 dan 80an kembali naik panggung dalam acara Harmoni Zaman. Bertempat di Kementerian Kebudayaan di Ballroom Binakarna, Hotel Bidakara, Jakarta pada Senin, 28 Juli, acara ini menjadi momen nostalgia sekaligus bentuk penghargaan bagi mereka yang pernah mengisi masa kecil jutaan anak Indonesia dengan lagu-lagu berpesan moral.

Mereka adalah Adi Bing Slamet, Chicha Koeswoyo, Vien Is Haryanto, Iyut Bing Slamet, dan Fitria Elvy Sukaesih yang tampil dengan lagu-lagu penuh kenangan seperti “Mama”, “Helly”, “Bebek-Bebekku”, hingga “Kereta Kuda”. Lagu-lagu ini bukan sekadar hiburan, karena lewat musik dan lirik mereka bisa menanamkan nilai-nilai luhur dan positif.

Menteri Kebudayaan Fadli Zon menegaskan, Harmoni Zaman adalah bentuk penghormatan kepada para penyanyi cilik yang telah berkontribusi besar dalam ekosistem musik Indonesia. “Mereka adalah harta nasional. Lagu anak tempo dulu tidak hanya menghibur, tapi juga mendidik,” kata Fadli dalam siaran tertulis, 29 Juli.

Acara ini juga menjadi bagian dari peringatan Hari Anak Nasional 23 Juli lalu, dan merupakan gelaran keempat Harmoni Zaman oleh Kementerian Kebudayaan. Sejak pertama digelar, ajang ini menjadi ruang apresiasi lintas generasi bagi musisi dari era 60-an hingga kini.

“Lagu anak adalah bagian dari perjalanan budaya bangsa. Ia harus dijaga dan terus dilestarikan,” ujar Fadli.

Acara dibuka oleh anak-anak dari Sanggar Wonderkid yang membawakan lagu “Anak Indonesia Baru”. Hadir pula sejumlah seniman senior seperti Addie MS, Dewa Budjana, dan Komeng, serta Direktur Jenderal Pengembangan Kebudayaan Ahmad Mahendra, Irjen Kebudayaan Fryda Lucyana, dan Direktur Film, Musik, dan Seni Syaifullah.

Puncak acara ditandai dengan penyerahan piagam penghargaan oleh Menteri Fadli Zon kepada para penyanyi legendaris serta Yanuar Ishak, salah satu pencipta lagu anak paling berpengaruh di masanya.

“Semoga akan lahir lebih banyak penyanyi dan pencipta lagu anak Indonesia yang relevan dengan zaman. Kita perlu terus menciptakan ruang untuk mereka tumbuh,” tutup Fadli.