Pemimpin Thailand dan Kamboja Bahas Konflik Perbatasan di Malaysia Sore Ini

JAKARTA - Pemimpin Thailand dan Kamboja akan menghadiri pembicaraan mediasi mengenai konflik perbatasan yang mematikan di Malaysia pada Hari Senin, kata pemerintah Thailand, meskipun kedua belah pihak saling menuduh telah melancarkan serangan artileri baru di wilayah yang disengketakan.

Perundingan dijadwalkan akan dimulai pukul 15.00 waktu setempat pada Hari Senin, dengan Penjabat Perdana Menteri Phumtham Wechayachai memimpin tim perunding Thailand, pemerintah mengumumkan dalam sebuah pernyataan pada Minggu malam.

Malaysia, yang memimpin forum kerja sama regional ASEAN, telah memberi tahu Pemerintah Thailand, Perdana Menteri Kamboja Hun Manet juga akan menghadiri pembicaraan tersebut, kata pernyataan tersebut, melansir Reuters 28 Juli.

Ketegangan antara Thailand dan Kamboja telah meningkat sejak terbunuhnya seorang tentara Kamboja pada akhir Mei dalam pertempuran singkat di perbatasan. Pasukan perbatasan di kedua belah pihak diperkuat di tengah krisis diplomatik.

Bentrokan kembali terjadi pada Hari Kamis dan, hanya dalam empat hari, meningkat menjadi pertempuran terburuk antara kedua negara tetangga di Asia Tenggara tersebut dalam lebih dari satu dekade.

Jumlah korban tewas telah meningkat di atas 30 orang, termasuk 13 warga sipil di Thailand dan delapan di Kamboja, sementara pihak berwenang melaporkan bahwa lebih dari 200.000 orang telah dievakuasi dari wilayah perbatasan.

Perundingan Hari Senin terjadi setelah Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim pekan lalu mengusulkan gencatan senjata. Sebelumnya, Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengatakan pada Hari Sabtu, kedua pemimpin telah sepakat untuk mengupayakan gencatan senjata.

Bangkok dan Phnom Penh masing-masing menuduh pihak lain memicu permusuhan pekan lalu.

Kementerian Pertahanan Kamboja mengatakan Thailand telah menembaki dan melancarkan serangan darat pada Minggu pagi di sejumlah titik di sepanjang perbatasan.

Juru bicara kementerian mengatakan artileri berat ditembakkan ke kompleks candi bersejarah.

Sementara, militer Thailand mengatakan pasukan Kamboja telah melepaskan tembakan ke beberapa daerah, termasuk di dekat rumah-rumah warga sipil, pada Hari Minggu, dan sedang memobilisasi peluncur roket jarak jauh.

"Situasi masih tegang dan pasukan Kamboja mungkin sedang mempersiapkan operasi militer intensif untuk menimbulkan kerusakan maksimum pada tahap akhir sebelum negosiasi," kata militer dalam sebuah pernyataan terbaru.

"Bagi saya, saya pikir akan sangat bagus jika Thailand setuju untuk menghentikan pertempuran agar kedua negara dapat hidup damai," ujar mahasiswa Universitas Phnom Penh Sreung Nita kepada Reuters.

Diketahui, Thailand dan Kamboja telah berselisih selama beberapa dekade mengenai titik-titik yang tidak dibatasi di sepanjang perbatasan darat mereka sepanjang 817 km (508 mil), dengan kepemilikan kuil Hindu kuno Ta Moan Thom dan Preah Vihear abad ke-11 menjadi inti perselisihan tersebut.

Preah Vihear diberikan kepada Kamboja oleh Mahkamah Internasional pada tahun 1962, tetapi situasi memburuk pada tahun 2008 setelah Kamboja berupaya mendaftarkannya sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO. Pertikaian selama beberapa tahun mengakibatkan setidaknya belasan kematian.

Kamboja mengatakan pada Bulan Juni, mereka telah meminta Mahkamah Internasional untuk menyelesaikan perselisihannya dengan Thailand.

Di sisi lain, Bangkok mengatakan mereka tidak pernah mengakui yurisdiksi pengadilan tersebut dan lebih memilih pendekatan bilateral.