Wamenperin Sebut Pengenaan Tarif 0 Persen Barang AS akan Jadi Tantangan bagi Industri Nasional
JAKARTA - Wakil Menteri Perindustrian (Wamenperin) Faisol Riza mengatakan, keputusan pengenaan tarif 0 persen untuk hampir seluruh barang Amerika Serikat (AS) akan menjadi tantangan bagi industri nasional.
Hal itu disampaikan Faisol dalam sambutannya pada acara Focus Group Discussion (FGD) Potensi Pengembangan Kereta Api Dalam Negeri yang dipantau secara daring melalui YouTube Kementerian Perindustrian, Jumat, 25 Juli.
"Yang dilakukan oleh Presiden Trump dengan mengupayakan supaya pasar dunia terbuka untuk Amerika dengan tekanan 0 persen. Semua yang dilakukan untuk industri Amerika bisa masuk ke pasar global, termasuk pasar di dalam negeri, tentu ini juga tantangan," ucap Faisol
Faisol tak menampik, di era kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto sekitar 9 bulan ini, banyak negara sedang berlomba untuk menguatkan industrinya masing-masing, termasuk salah satunya yang dilakukan oleh Amerika Serikat (AS).
"Sungguh dalam perjalanan 9 bulan, ya, pemerintahan baru dipimpin oleh Bapak Presiden Prabowo Subianto, kenyataan yang ada di dunia hari ini perlombaan untuk membangun industri ini terjadi di mana-mana, termasuk yang dilakukan oleh Presiden Trump," kata dia.
Terlebih, kata Faisol, Presiden Prabowo Subianto menyebut pertumbuhan ekonomi RI sebesar 8 persen hanya bisa dipenuhi melalui sumbangsih dari industri pengolahan nonmigas.
"Bapak Presiden (Prabowo) menekankan berkali-kali bahwa 8 persen pertumbuhan ekonomi itu hanya bisa dipenuhi melalui sumbangan sektor industri, khususnya industri pengolahan nonmigas," ujarnya.
Oleh karena itu, Faisol meminta semua pihak untuk bekerja bersama-sama dengan pemerintah demi menguatkan industri dalam negeri, terlebih untuk menghadapi kebijakan perdagangan baru yang akan diterapkan oleh AS.
Sebab jika tidak dilakukan, Faisol khawatir, industri Indonesia akan tertinggal jauh dari negara-negara lainnya dan hanya menjadi pasar untuk barang-barang dari luar negeri.
"Walaupun dari segi pengalaman, manufacturing value added, semua di bawah kami, tapi kalau kami lengah sebentar bisa (industri) kami ditinggal oleh mereka. Makanya pada hari ini, diselenggarakan kegiatan FGD supaya kami mampu menjawab terus-menerus apa yang dibutuhkan oleh industri," pungkasnya.
Baca juga:
Sebelumnya, Presiden AS Donald Trump mengumumkan, tarif impor untuk produk-produk Indonesia yang masuk ke Amerika akan ditetapkan sebesar 19 persen. Keputusan itu disebut-sebut sebagai hasil langsung dari negosiasi antara dirinya dengan Presiden RI Prabowo Subianto.
"Indonesia akan membayar tarif 19 persen kepada Amerika Serikat untuk semua barang impor dari mereka ke negara kami," demikian pernyataan Trump yang dipantau dari akun media sosialnya, Truth Social.
Angka 19 persen tersebut menandakan adanya penurunan signifikan dari tarif awal 32 persen yang pertama kali diumumkan Trump pada April 2025 lalu.
Sedikitnya, ada 10 komoditas ekspor RI terbesar ke AS. Antara lain peralatan listrik dan elektronik (4,83 miliar dolar AS); alas kaki, gaiter dan sejenisnya (2,64 miliar dolar AS); pakaian rajutan atau kait (2,30 miliar dolar AS); lemak dan minyak hewani/nabati, produk pembelahannya (2,19 miliar dolar AS); serta pakaian bukan rajutan atau kait (2,14 miliar dolar AS).