Kemlu Israel Tolak Pernyataan Kelompok Kemanusiaan Soal Kelaparan Massal di Gaza

JAKARTA - Israel menolak pernyataan lebih dari 100 organisasi bantuan dan kelompok-kelompok hak asasi manusia yang memperingatkan "kelaparan massal” telah menyebar di Gaza, kata Kementerian Luar Negeri dalam pernyataannya.

"Organisasi-organisasi ini melayani propaganda Hamas, menggunakan jumlah mereka, membenarkan kengerian mereka, alih-alih menantang organisasi teror itu, mereka merangkulnya sebagai milik mereka," kata kementerian, dilansir dari The Times of Israel 24 Juli.

"Di masa-masa kritis negosiasi ini, mereka menggemakan propaganda Hamas dan merusak peluang gencatan senjata; kami mendesak semua organisasi untuk berhenti menggunakan poin-poin pembicaraan Hamas," lanjut kementerian.

Sebelumnya, lebih dari 100 kelompok kemanusiaan pada Hari Rabu menyerukan agar pemerintah dari berbagai negara di dunia mengambil tindakan saat kelaparan meluas di Jalur Gaza, Palestina, termasuk menuntut gencatan senjata segera dan permanen serta pencabutan semua pembatasan aliran bantuan kemanusiaan.

Dalam pernyataan yang ditandatangani oleh 111 organisasi, termasuk Mercy Corps, Norwegian Refugee Council dan Refugees International, kelompok-kelompok tersebut memperingatkan kelaparan massal sedang menyebar di wilayah kantong Palestina itu, ketika berton-ton makanan, air bersih, pasokan medis, dan barang-barang lainnya terbengkalai di luar Gaza karena organisasi-organisasi kemanusiaan diblokir untuk mengakses atau mengirimkannya.

Ilustrasi truk bantuan ke Gaza. (Twitter/@cogatonline)

"Seiring pengepungan Pemerintah Israel yang membuat rakyat Gaza kelaparan, para pekerja bantuan kini bergabung dengan antrean makanan yang sama, berisiko ditembak hanya untuk memberi makan keluarga mereka. Dengan persediaan yang kini benar-benar habis, organisasi-organisasi kemanusiaan menyaksikan rekan dan mitra mereka sendiri terbuang sia-sia di depan mata mereka," kata organisasi-organisasi tersebut, melansir Reuters.

Pembatasan, penundaan dan fragmentasi Pemerintah Israel di bawah pengepungan totalnya telah menciptakan kekacauan, kelaparan dan kematian, kata mereka.

Organisasi-organisasi tersebut menyerukan agar pemerintah menuntut pencabutan semua pembatasan birokrasi dan administratif, pembukaan semua penyeberangan darat, jaminan akses bagi semua orang di Gaza, penolakan distribusi yang dikendalikan militer, dan pemulihan "respons kemanusiaan yang berprinsip dan dipimpin PBB."

Negara-negara harus mengambil langkah-langkah konkret untuk mengakhiri pengepungan, seperti menghentikan transfer senjata dan amunisi, kata mereka

Kementerian Luar Negeri Israel mengatakan, hampir 4.500 truk telah memasuki Gaza sejak 19 Mei, termasuk 2.500 ton makanan bayi dan makanan anak-anak berkalori tinggi.

Kementerian tersebut menambahkan ada lebih dari 700 truk berisi bantuan di dalam Gaza yang menunggu untuk didistribusikan oleh PBB.

"Hambatan ini merupakan hambatan utama untuk mempertahankan aliran bantuan kemanusiaan yang konsisten ke Jalur Gaza," kata Kementerian Luar Negeri,

"Obsesi mereka terhadap Israel lebih penting bagi mereka daripada membantu rakyat Gaza," tandasnya.