Presiden Iran Menantang Trump: Penghentian Program Nuklir Hanya Ilusi
JAKARTA - Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, menyatakan upaya Amerika Serikat dan Israel untuk menghentikan program nuklir Teheran adalah sia-sia, menyebut gagasan untuk mengakhirinya sebagai "ilusi”.
Pezeshkian juga bersumpah Iran akan melanjutkan pengayaan uranium sesuai dengan kerangka hukum internasional, sebagaimana dilaporkan kantor berita semi-resmi Tasnim pada Rabu.
“Upaya-upaya ini didasarkan pada ilusi,” kata Pezeshkian dalam wawancara dengan Al Jazeera Qatar dilansir ANTARA dari Anadolu, Rabu, 23 Juli.
Dia merujuk pada pernyataan para pejabat AS, termasuk mantan Presiden Donald Trump, yang menyatakan infrastruktur nuklir Iran telah dinetralkan.
“Kemampuan nuklir kami terletak pada pikiran para ilmuwan kami, bukan pada fasilitasnya,” tegas Pezeshkian.
Pezeshkian turut menegaskan kembali posisi lama Iran, negaranya tidak berniat untuk memiliki senjata nuklir, dengan alasan komitmen politik, agama, dan strategis.
“Kami dengan tegas menolak kepemilikan senjata nuklir. Ini adalah posisi kami secara politik, agama, kemanusiaan, dan strategis,” ujarnya.
Presiden Iran itu menyatakan Teheran tetap terbuka untuk keterlibatan diplomatik tetapi menekankan bahwa setiap negosiasi harus mengakui hak Iran untuk memperkaya uranium untuk penggunaan sipil.
“Setiap negosiasi di masa mendatang harus berdasarkan logika saling menguntungkan,” ucap dia.
Ia juga mengeluarkan peringatan keras terhadap Israel dengan mengatakan Iran siap respons dengan tegas terhadap serangan apa pun di masa mendatang.
“Kami sepenuhnya siap menghadapi setiap aksi militer Israel, dan pasukan kami siap menyerang jauh ke dalam wilayah pendudukan sekali lagi,” tegasnya.
Perundingan antara Iran dan Amerika Serikat sebelumnya dilakukan melalui mediasi Oman, hingga serangan mendadak Israel terhadap Iran pada 13 Juni memicu perang selama 12 hari, yang menargetkan situs militer, nuklir, dan sipil, serta menewaskan sejumlah komandan militer senior dan ilmuwan nuklir Iran.
Baca juga:
Iran membalas dengan meluncurkan serangan rudal dan drone ke fasilitas militer dan intelijen Israel.
Iran juga menuduh AS terlibat dalam serangan tersebut, yang menewaskan pejabat tinggi militer, ilmuwan nuklir, dan warga sipil Iran. AS juga melakukan serangan terhadap tiga situs nuklir utama Iran dan mengklaim telah menghancurkanya.
Gencatan senjata yang dimediasi oleh AS antara kedua negara diumumkan pada 23 Juni.
Putaran baru negosiasi nuklir antara Iran dan tiga negara Eropa, yang dikenal sebagai E3 — yakni Inggris, Prancis, dan Jerman — dijadwalkan akan berlangsung pada Jumat di Istanbul.