Pemkab Batang Punya Kurikulum hingga Buku untuk Menjaga Kelestarian Budaya Lokal

JAKARTA - Pelestarian budaya tak hanya bisa dilakukan lewat perayaan atau pertunjukan tradisi, tetapi juga melalui pendidikan formal. Kurikulum di sekolah menjadi sarana strategis untuk menanamkan nilai budaya sejak dini.

Di Kabupaten Batang, Jawa Tengah, langkah konkret dilakukan lewat peluncuran program kurikulum muatan lokal (Mulok) dan buku Ngangsu Kaweruh untuk pembelajaran Bahasa Jawa.

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Batang, Bambang Suryantoro Sudibyo, menyampaikan bahwa program ini dirancang sebagai bagian dari upaya menghidupkan kembali budaya dan bahasa daerah di kalangan pelajar.

Untuk tahap awal, kurikulum ini diterapkan di jenjang sekolah dasar (SD) dan akan diperluas ke sekolah menengah pertama (SMP) di masa depan.

"Kurikulum ini bukan sekadar menambah pelajaran, tapi bagaimana kita menumbuhkan rasa cinta budaya sejak kecil," ujarnya, seperti dikutip ANTARA.

Materi dalam kurikulum muatan lokal tersebut terdiri dari tiga komponen utama, yakni budaya dan lingkungan, pendidikan dasar kewirausahaan, serta Bahasa Jawa. Semua dirancang berdasarkan kearifan lokal dan relevan dengan kehidupan sehari-hari siswa.

Bambang menambahkan, pembelajaran Bahasa Jawa tidak hanya akan menekankan aspek bahasa semata, melainkan juga etika dan tata krama yang melekat dalam budaya Jawa. Ia berharap kurikulum ini mampu membentuk karakter peserta didik agar tidak tercerabut dari akar budayanya sendiri.

"Melalui Ngangsu Kaweruh, anak-anak bisa belajar unggah-ungguh, tata krama, dan nilai-nilai yang menjadi bagian dari jati diri bangsa," katanya.

Sementara itu, Wakil Bupati Batang, Suyono, menekankan pentingnya implementasi kurikulum ini di lapangan agar tidak hanya berhenti di atas kertas. Menurutnya, hasil dari pelajaran muatan lokal harus dapat dirasakan secara nyata dalam perilaku dan wawasan siswa terhadap budayanya sendiri.

"Yang terpenting bukan hanya diajarkan, tapi juga dijalankan. Jangan sampai Mulok hanya formalitas tanpa makna," tegasnya.