Iran Bakal Pertimbangkan Ulang Keanggotaan di Perjanjian Nonproliferasi Nuklir
JAKARTA - Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengusulkan mempertimbangkan kembali keanggotaan Teheran dalam perjanjian penting yang bertujuan mencegah penyebaran senjata nuklir setelah serangan AS dan Israel terhadap fasilitas nuklirnya.
"Serangan terhadap fasilitas nuklir kami tentu akan berdampak serius dan mendalam pada arah masa depan Iran," kata Abbas Araghchi kepada kantor berita Qatar Al Araby Al Jadeed dilansir CNN, Rabu, 25 Juni.
Iran adalah anggota Perjanjian Non-Proliferasi (NPT), perjanjian yang dirancang untuk memantau dan mencegah penyebaran senjata nuklir secara global serta mendorong penggunaan teknologi nuklir secara damai.
Setiap penandatangan perjanjian tanpa senjata nuklir dilarang untuk mengupayakan senjata itu.
Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA), pengawas nuklir PBB yang memantau kepatuhan terhadap NPT, telah mengeluarkan laporan dalam beberapa bulan terakhir yang mengatakan Iran gagal memberikan jawaban atas pertanyaan mengenai program nuklirnya.
Meskipun Republik Islam itu bersikeras programnya bersifat damai, negara itu mulai memperkaya uranium hingga mendekati tingkat senjata setelah Presiden AS Donald Trump menarik diri dalam masa jabatan pertamanya dari perjanjian yang ditandatangani pada tahun 2015 antara Teheran dan kekuatan internasional termasuk AS.
Baca juga:
Akhir pekan lalu, Trump memerintahkan serangan terhadap program nuklir Iran yang menurutnya telah menghancurkan program tersebut meskipun laporan Pentagon yang bocor mengatakan serangan tersebut kemungkinan hanya akan menghambatnya beberapa bulan.
“Kami telah bekerja selama bertahun-tahun untuk menunjukkan kepada dunia bahwa kami berkomitmen pada Perjanjian Non-Proliferasi Nuklir (NPT) dan bersedia bekerja dalam kerangkanya, tetapi sayangnya, perjanjian ini belum dapat melindungi kami atau program nuklir kami,” kata Araghchi.
Diplomat tertinggi Iran mengatakan masih terlalu dini untuk membahas bagaimana Iran akan bereaksi.
Tetapi Abbas mengatakan dia akan “membayangkan” pandangan Iran terhadap program nuklir dan rezim non-proliferasi akan mengalami perubahan, yang arahnya belum dapat tergambar.