Transformasi menjadi Smart Nation, Indonesia Tak Perlu Malu Belajar dari Singapura
JAKARTA – Peradaban informasi sudah memasuki era digitalisasi. Hal ini membuat banyak negara termasuk Indonesia berlomba untuk menerapkan teknologi digital dalam berbagai layanan publik. Lazimnya, sebuah negara memulai proyek transformasi menjadi smart nations dengan memperkenalkan konsep smart city.
Smart city merupakan konsep transformasi kota melalui penggunaan potensi dari internet yang diyakini juga mampu menjadi solusi dalam mengurangi permasalahan dalam membentuk kota serta meningkatkan produktifitas manusia di dalamnya. Adapun pengembangan kota menuju smart city diawali dengan sebuah penggunaan sebuah teknologi yang bertransformasi pada permasalahan yang sifatanya mengedepankan perubahan.
Baca juga:
Singapura sebagai salah satu negara yang menerapkan konsep smart city yang berhasil dalam mengadopsi pelayanan publik dan menerapkan E-Government dengan memperoleh peringkat ke-7 di dunia. Pemerintah Singapura membuat perencanaan mengenai E-Government dengan menerapkan kedalam kapabilitas sebagai percobaan pertama pada tersedianya house of Governance.
Percobaan pertama dalam mewujudkan SPBE hebat di Singapura adalah dengan mempekerjakan 4,444 orang. Pemerintah Singapura terlibat dalam beberapa universitas, termasuk Republic Polytechnic (RP) dan Institute of Technical Education (ITE). Menarik karyawan terampil untuk mendukung pemerintahan dan perekonomian, khususnya sektor teknologi. Selain itu, sebanyak pegawai yang sebelumnya bekerja di Singapura dan menjadi Aparatur Sipil Negara (ASN pelatihan dan pendampingan di Civil Service College (CSC).
Sukses dengan smart city, Negeri Singa langsung bergerak cepat untuk mewujudkan transformasi sebagai smart nations. Baru-baru ini, Perdana Menteri dan Menteri Keuangan Singapura, Lawrence Wong meluncurkan Smart Nation 2.0, sebuah visi baru yang bertujuan untuk membangun masyarakat yang siap berkembang di era digital. Inisiatif ini menekankan tiga tujuan utama, yakni kepercayaan, pertumbuhan, dan komunitas.
Ketiga pilar ini dirancang untuk meningkatkan kualitas hidup warga negara sambil memastikan bahwa Singapura dapat beradaptasi dengan cepat terhadap tren digital dan kemajuan teknologi yang terus berkembang. AI dan Inovasi Sains Dipimpin oleh National Research Foundation (NRF), Smart Nation 2.0 memperkenalkan program “AI for Science”. Program ini bertujuan untuk mengembangkan dan mengadopsi metode serta alat AI yang dapat diterapkan di berbagai disiplin ilmu, dengan fokus pada peningkatan produktivitas penelitian dan memajukan penemuan ilmiah. Kolaborasi antara peneliti AI dan pakar domain ilmiah akan didorong, terutama di bidang-bidang seperti penelitian material canggih serta ilmu biomedis dan kesehatan.
Smart Nation 2.0 dirancang untuk lebih memanfaatkan teknologi digital guna meningkatkan produktivitas, layanan publik, dan kualitas hidup secara keseluruhan. Program ini menekankan pada:
Pembangunan Infrastruktur AI yang Lebih Kuat: Singapura berkomitmen untuk membangun infrastruktur yang mendukung teknologi canggih, termasuk kemampuan data analytics yang lebih baik. Ini diharapkan dapat mempermudah penerapan AI di berbagai sektor, seperti penelitian sains dan kesehatan.
Peningkatan Ketahanan Siberkeamanan dalam menghadapi ancaman siber dan tantangan teknologi menjadi prioritas utama, mengingat ekosistem digital yang semakin kompleks.
Penggunaan Inovasi Secara Etis: Smar.0 memastikan bahwa penggunaan teknologi dilakukan dengan mempertimbangkan aspek etika dan tanggung jawab.
Lantas, bagaimana dengan Indonesia sendiri? Dalam penilaian yang dilakukan oleh Internasional Insitute for Management terhadap kemampuan negara memanfaatkan dan mengembangkan teknologi digital untuk mengakselerasi pertumbuhan ekonomi dan daya saing negara, terlihat bahwa kesiapan Indonesia masih cukup rendah. Hal ini terbukti dari indeks yang mengukur tiga komponen utama yaitu pengetahuan, infrastruktur teknologi dan kesiapan masa depan di bawah ini.
Tabel World Digital Competitiveness 2024
Indikator Indonesia Singapura Gap
Pengetahuan 47.16 95.40 48.24
Infrastruktur Teknologi 61.79 97.58 35.79
Kesiapan Masa Depan 68 100 32
Peringkat Global 43 1
Sumber: IMD
Tabel di atas menunjukkan bahwa Indonesia, yang kini berada di peringkat ke 43, masih tertinggal dibandingkan dengan Singapura yang menduduki peringkat pertama, kesenjangan dalam penilaian ini mencerminkan terdapatnya perbedaan yang cukup kontras dari beberapa aspek kunci yang memengaruhi daya saing negara menghadapi disrupsi teknolgi. Literasi digital Singapura yang lebih tinggi didukung oleh investasi pemerintah yang besar dalam sistem pendidikan dan pelatihan teknologi yang mutakhir. Sementara, Indonesia masih menghadapi tantangan dalam hal kualitas pendidikan, keterampilan tenga kerja dan riset ilmiah yang dapat mendukung inovasi digital.
Adapun sehubungan dengan infrastruktur, Indonesia juga tertinggal 35.79 poin dari Singapura. Singapura dinilai telah memiliki infrastruktur yang cenderung stabil dalam mendukung pembangunan industri berbasis teknologi, di sisi lain Indonesia masih terhambat dalam pengembangan dan pemerataan infrastruktur terutama di area non-urban. Berdasarkan penelitian, negara yang memiliki infrastruktur teknologi yang lebih baik seperti Singapura, akan lebih mampu memfasilitasi lebih banyak pengembangan
inovasi sehingga juga akan berpengaruh pada peningkatan daya saing negara di tingkat global.
Perbedaan signifikan juga tersorot dalam indikator kesiapan masa depan antara Indonesia yang meraih 68 poin sementara Singapura mampu mencatat nilai sempurna. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa kebijakan yang kurang konsisten dan dukungan infrastruktur yang masih rendah akan mempersulit kesiapan digital masa depan negara tersebut. Sedangkan, Singapura telah sanggup mewujudkan ekosistem yang matang berkait kebijakan yang terintegrasi terhadap inovasi teknologi melalui inisiatif Smart Nation.