Wastra Tradisional sebagai Wujud Akulturasi Budaya Nusantara dan Tionghoa
JAKARTA - Wastra tradisional Indonesia tidak hanya berfungsi sebagai penutup tubuh atau penanda status sosial, tetapi juga menyimpan kisah panjang tentang interaksi lintas budaya.
Setiap helai kain mengandung simbol, warna, dan motif yang mencerminkan proses akulturasi, termasuk antara budaya lokal dengan budaya Tionghoa yang telah terjadi sejak masa lampau.
Kain batik dengan motif naga, tenun dengan ornamen bunga peoni, hingga penggunaan warna merah dan emas, menjadi bukti nyata bahwa budaya asing tidak sekadar hadir, tetapi turut menyatu dalam identitas budaya Indonesia.
Menurut akademisi dari Universitas Indonesia, jejak interaksi budaya antara Indonesia dan Tiongkok sudah terjalin selama berabad-abad. Hal ini dipengaruhi oleh posisi strategis Indonesia sebagai jalur perdagangan internasional yang mempertemukan beragam bangsa dan kebudayaan, seperti Belanda, Arab, India, dan China.
Prof. Dr. AM. Hermina Sutami, M.Hum., Dosen Program Studi China Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya UI, menyatakan bahwa hasil perpaduan budaya itu tampak jelas pada kain wastra, di mana simbol-simbol dari berbagai etnis berbaur membentuk estetika dan filosofi yang khas.
Ia mencontohkan pengaruh Tionghoa dalam wastra Indonesia tidak hanya terjadi di satu wilayah, melainkan tersebar di berbagai daerah, melahirkan budaya peranakan yang unik.
Baca juga:
- Indonesia Fashion Week 2025 Resmi Dibuka, Hadirkan 200 Desainer Lokal dengan Tema Ronakultura Jakarta
- Pameran Mode Berpengaruh Dunia Buka Peluang Kolaborasi di Indonesia Fashion Week 2025
- Pameran Wastra di Museum Tekstil Tampilkan Keindahan Akulturasi Budaya Nusantara
- Sarung sebagai Ikon Fesyen, Samuel Wattimena: Mengangkat Identitas Budaya Indonesia
Salah satu unsur yang paling kentara dari pengaruh budaya Tionghoa adalah penggunaan motif naga pada kain tradisional. Jika dalam kebudayaan Barat naga digambarkan sebagai makhluk yang mengancam, dalam tradisi Tiongkok ia justru dimuliakan sebagai simbol kekuatan, kesehatan, dan keberuntungan. Naga dipercaya memiliki kendali atas unsur alam, seperti hujan, dan dianggap makhluk agung yang membawa keberkahan.
Warna juga menjadi elemen penting dalam akulturasi. Warna merah yang lekat dalam budaya Tionghoa diadopsi dalam banyak wastra Indonesia karena dipercaya memiliki banyak makna.
"Dalam budaya Tionghoa, warna merah juga berperan dalam mengusir roh jahat sekaligus memberikan energi positif. Sementara warna merah yang dikombinasikan dengan emas memberikan makna kekayaan dan kemakmuran," terangnya, seperti dikutip ANTARA.
Ketua Umum Himpunan Wastraprema, Neneng Iskandar, menambahkan bahwa pengaruh Tionghoa dalam wastra Nusantara bukan hanya terlihat dari motif naga, tetapi juga dari kehadiran bunga teratai, peoni, burung hong, dan kilin. Motif-motif ini sering ditemukan pada kain batik maupun tenun, yang terinspirasi dari desain keramik Tiongkok yang masuk ke Nusantara dan diadaptasi oleh para perajin lokal.
Menurutnya, proses akulturasi ini tidak menghapus jati diri budaya Indonesia, melainkan memperkaya warisan budaya melalui keberagaman motif, warna, teknik pembuatan, hingga nilai-nilai filosofis yang menyertainya.