Pesta Kesenian Bali ke-47 Dibuka, Serukan Harmoni Alam dan Budaya

JAKARTA - Pesta Kesenian Bali (PKB) bukan hanya sebuah perayaan seni, melainkan wujud nyata dari semangat pelestarian budaya dan keharmonisan hidup. Dalam gelaran ke-47 tahun ini, PKB mengangkat tema “Jagat Kerthi: Lokahita Samudaya” yang menggambarkan pentingnya menjaga keseimbangan semesta—antara manusia, alam, dan nilai-nilai spiritual—dalam satu kesatuan yang tak terpisahkan.

Mewakili Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto, Menteri Kebudayaan Fadli Zon secara resmi membuka acara tersebut di Taman Werdhi Budaya Art Center, Denpasar, pada Sabtu, 21 Juni.

Dalam pidatonya, ia menekankan bahwa warisan budaya seperti PKB harus terus dirawat sebagai kekuatan pemersatu bangsa sekaligus identitas nasional.

“Ini bukan hanya agenda tahunan, tapi tonggak penting dalam perjalanan pemajuan kebudayaan di tanah air. Sejak pertama kali diadakan pada tahun 1979, Pesta Kesenian Bali menjadi bukti konsistensi Bali dalam menjaga keluhuran budayanya,” ujar Fadli.

Ia juga menyoroti pentingnya kegiatan lintas budaya seperti Bali World Culture Celebration (BWCC), yang membuka ruang bagi pertukaran seni dan pemahaman lintas bangsa. Menurutnya, kebudayaan adalah bahasa universal yang mampu menjembatani perbedaan dan memperkuat persaudaraan global.

Gubernur Bali, I Wayan Koster, dalam laporannya mengungkapkan bahwa pelaksanaan PKB adalah bentuk konkret dari semangat masyarakat Bali untuk melestarikan budaya secara utuh. “Kami tidak hanya melindungi warisan, tapi juga terus mendorong kreativitas dan regenerasi melalui kolaborasi seniman dan budayawan lokal,” ujarnya.

Pembukaan PKB ke-47 ditandai dengan penampilan tarian Pendet yang sarat makna, diiringi musik tradisional dari ISI Bali. Suasana yang sarat spiritualitas ini dilengkapi dengan prosesi pemukulan tambur oleh Menteri Fadli Zon sebagai simbol dimulainya rangkaian acara.

Dalam kesempatan itu, Fadli juga menyampaikan harapan agar setiap daerah di Indonesia dapat mengembangkan festival serupa, yang lahir dari kekayaan dan kearifan lokal masing-masing. “Saya berharap ajang ini tidak hanya menjadi kebanggaan Bali, tetapi juga inspirasi bagi wilayah lain untuk menggali potensi budayanya secara mandiri,” tegasnya.

Rangkaian kegiatan PKB ke-47 yang berlangsung hingga 19 Juli 2025 melibatkan berbagai jenis pertunjukan dan aktivitas seni, mulai dari Peed Aya (pawai budaya), Rakasadana (pagelaran seni), Utsawa (parade), Wimbakara (kompetisi), hingga Widyatula (sarasehan kebudayaan). Ada pula Kriyaloka (lokakarya), Kandarupa (pameran visual), hingga Adi Sewaka Nugraha (penghargaan bagi seniman).

Acara pembukaan dihadiri oleh jajaran pemerintah daerah Bali, perwakilan negara sahabat, serta para seniman dan pelaku budaya dari berbagai penjuru. Di penghujung sambutannya, Fadli mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang terlibat dalam pelaksanaan PKB, sembari menegaskan bahwa acara ini adalah ruang refleksi sekaligus momentum penguatan jati diri budaya Bali di tengah arus globalisasi yang terus mengalir.