Efek Konflik Geopolitik, Rupiah Berpotensi Melemah di Kisaran Rp16.300

JAKARTA - Pengamat Pasar Keuangan dan Komoditas Ariston Tjendra menyampaikan pergerakan rupiah berpotensi melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada Rabu, 18 Juni.

"Pada pagi ini indeks dolar AS bergerak lebih tinggi dibandingkan kemarin, 98,77 vs 98,20," ujarnya kepada VOI, Rabu, 18 Juni.

Menurutnya, ini efek dari konflik perang Iran Israel yang belum berhenti dan AS yang mulai mengintervensi membantu Israel.

Di sisi lain, ia menyampaikan, pasar juga menantikan hasil rapat moneter the Fed yang kemungkinan nadanya bisa lebih dovish atau mendukung pelonggaran moneter ke depannya.

Selain itu, Ariston menyampaikan ekonomi AS mengalami tekanan belakangan ini sehingga wajar para pelaku pasar berekspektasi demikian dan kalau ini terjadi dolar AS malah bisa tertekan.

"Jadi kemungkinan dolar AS tidak akan bergerak terlalu kuat hari ini terhadap rupiah, karena ada sentimen the Fed yang kuat yang bisa menahan penguatan dolar AS ini," tuturnya.

Ia menyampaikan pergerakan rupiah pada Rabu, 18 Juni berpotensi melemah menuju ke level Rp16.300 per dolar AS, dengan potensi support di kisaran Rp16.250 per dolar AS.

Sebagai informasi mengutip Bloomberg, pada hari Selasa, 17 Juni, Kurs rupiah spot di tutup melemah 0,15 persen ke level Rp16.290 per dolar AS.

Sementara itu, kurs rupiah Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia (BI), ditutup menguat 0,09 persen ke level harga Rp16.281 per dolar AS.