Guru Bangsa Buya Syafii Maarif Meninggal Dunia dalam Memori Hari Ini, 27 Mei 2022

JAKARTA – Memori hari ini, tiga tahun yang lalu, 27 Mei 2022, tokoh Muhammadiyah, Ahmad Syafii Maarif meninggal dunia. Kepergiannya membawa duka yang mendalam. Ucapan belangsungkawa pun berdatangan dari tokoh nasional.

Buya Syafii dikenal sebagai cendekiawan muslim Islam kesohor. Eksistensinya kerap membawa kekaguman, apalagi kesederhanaannya. Narasi itu diperlihatkannya kala memimpin Muhammadiyah.

Popularitas Buya Syafii sebagai cendekiawan Islam tiada dua. Pria kelahiran Sumpur Kudus, Sumatra Barat, 31 Mei 1935 itu pernah dianggap tokoh Islam yang berpikiran jauh melampau zaman. Pemikirannya tak melulu urusan agama belaka.

Ia juga mencoba mengajak umat Islam memperjuangkan demokrasi, keadilan, dan kemanusiaan. Kepopulerannya sebagai cendekiawan Islam tak sendiri. Kala itu namanya mencuat bersama dengan Nurcholish Madjid dan Amien Rais.

Ketiganya dikenal sebagai sosok yang menunjukkan wajah Islam yang menjunjung tinggi keberagaman. Mereka pun tak diam ketika rakyat Indonesia menderita. Buya Syafii, misalnya. Ia tak jarang aktif mengkritik kebijakan pemerintah orde Baru yang tak pro rakyat.

Pemakaman jenazah almarhum mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah Prof Dr H. Ahmad Syafii Maarif di Taman Makam Husnul Khotimah Donomulyo, Kulonprogo, Yogyakarta pada 27 Mei 2022 diselimuti suasana mendung. (ANTARA/Sutarmi)

Takdir kemudian membawanya jadi pemimpin ormas Islam besar, Muhammadiyah. Kepemimpinannya pun berlangsung kala Orde Baru runtuh. Narasi itu membuatnya membawa Muhammadiyah fokus kepada mencerdaskan anak bangsa dan kemajuan.

Ia tak mau membawa Muhammadiyah terlampau jauh masuk ke ranah politik. Ia membawa Muhammadiyah terus dekat dengan organisasi Islam lainnya, utamanya Nahdlatul Ulama (NU). 

Kepemimpinannya cukup membekas dari 1998-2005. Orang-orang – bahkan di luar Islam—menjadikannya sosok teladan. Buya Syafii dianggap sebagai ikon kesederhanaan yang sesungguhnya. Tiada hal dalam kehidupannya yang menunjukkan kemewahan. Ia selalu tampil sederhana dalam kehidupan sehari-hari.

“Baik pada saat memimpin Muhammadiyah (1998-2005) maupun setelahnya, Buya menjadi teladan bagi semua kalangan. Ia hidup berbalut kesederhanaan dengan menjalin pertemanan tanpa pandang bulu. Meskipun namanya sudah menjulang, Buya masih setia mengayuh sepeda, juga mencuci dan menyetrika baju sendiri.”

“Tak pernah ada cerita ataupun saksi mata Buya meminta tasnya dibawakan. Di antara teman-temannya, ada yang berasal dari kalangan miskin papa, juga konglomerat yang tak terhitung hartanya. Dari tukang sapu, marbut masjid, dan sebagainya hingga para menteri dan bahkan presiden adalah sahabat-sahabat baiknya,” ungkap Abd. Rohim Ghazali dalam tulisannya di majalah Tempo berjudul Fundamentalis Insaf dan Keutuhan Indonesia (2022).

Orang seperti Buya Syafii tentu tak banyak. Jejak dan langkahnya sebagai cendekiawan Islam sudah tentu sulit ditiru. Masalah itu kian dalam lagi karena Buya Syafii meninggal dunia karena penyakit jantung pada 27 Mei 2022.

Ia meninggal dunia di RS PKU Muhammadiyah Gamping, Sleman, Yogyakarta. Kepergiannya Buya Syafii membawa duka yang mendalam. Kondisi itu membuat ucapan belasungkawa muncul dari mana-mana. Presiden Jokowi pun tak lupa mengucapkan belasungkawa.

Jokowi bahkan sudah menganggap Buya Syafii sebagai guru bangsa. Suatu sosok yang dianggap punya sumbangsih besar bagi bangsa dan negara.

"Innalillahi wa inna ilaihi rajiun. Atas nama pemerintah, rakyat Indonesia, saya menyampaikan belasungkawa yang dalam atas berpulangnya Buya Syafii. Semoga segala amal ibadah almarhum diterima oleh Allah SWT, diampuni kesalahannya, dan segenap keluarga yang ditinggalkan sabar dan tabah," ungkap Jokowi sebagaimana dikutip laman ANTARA, 27 Mei 2022.