WHO Kembali Beberkan Dampak Serius Pemotongan Dana Bantuan AS, Krisis Kesehatan Makin Parah!

JAKARTA - Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) kembali buka suara terkait pemotongan dana bantuan luar negeri yang dilakukan oleh Amerika Serikat (AS). Hal ini berdampak pada bantuan kemanusiaan di seluruh dunia, terutama kesehatan.

Seperti diketahui, AS telah lama menjadi donor terbesar WHO dan tidak membayar iurannya untuk 2024. Sampai saat ini, masih belum diketahui dengan jelas AS akan memenuhi kewajibannya atau tidak untuk tahun 2025.

Namun, sikap AS tersebut telah membuat WHO menghadapi defisit besar tahun ini, dan menyusutkan anggarannya hingga seperlima. Hal ini membuat krisis kesehatan dunia semakin parah, dengan berbagai program penting yang terpaksa harus dihentikan karena dana yang tidak mencukupi.

“WHO beserta mitranya memiliki peran penting dalam mempertahankan sistem perawatan kesehatan, rehabilitas sistem perawatan kesehatan, pelatihan dan pengiriman tim medis darurat, serta pra penempatan peralata trauma,” ungkap direktur regional WHO, Hanan Balhky, untuk Mediterania Timur, dikutip dari CNA, pada Senin, 21 April 2025.

“Banyak dari program yang ada telah berhenti atau tidak akan dapat dilanjutkan,” tambahnya.

Pemotongan dana tersebut kemungkinan akan semakin menghambat kemampuan WHO untuk memberikan bantuan yang besar kepada masyarakat yang memang membutuhkan perawatan.

Seperti bantuan terhadap konflik yang sedang berlangsung di Gaza, Sudan, dan Yaman, yang lembaga perawatan kesehatan dan program bantuannya sudah berada di bawah tekanan.

“Dukungan tim medis darurat, pengadaan obat-obatan, dan rehabilitas fasilitas perawatan kesehatan, semuanya langsung terdampak oleh pembekuan dukungan AD,” tuturnya.

Keluarnya AS dari anggota WHO dan pemotongan dananya juga akan melemahkan saluran komunikasi yang telah lama terjalin dengan fasilitas penelitian terkemuka, universitas, dan lembaga kesehatan masyarakat yang berpusat di AS.

Hal tersebut berdampak terjadinya pencegahan penyebaran informasi dan penelitian. Padahal, informasi dan penelitian sangat penting untuk mencegah krisis kesehatan masyarakat global, seperti pandemi COVID-19 yang beberapa waktu lalu muncul.