2.000 Kasus Baru HIV AIDS per Hari Mungkin Ditemukan jika Pendanaan USAID Tak Dipulihkan

JAKARTA - Joint United Nations Programme on HIV and AIDS (UNAIDS) memperingatkan jika pendanaan dari Amerika Serikat (AS) melalui Lembaga Pembangunan Internasional AS (USAID) tidak dipulihkan atau digantikan, hal ini berisiko mengalami 2 ribu kasus baru infeksi HIV setiap harinya.

Selain itu, dalam empat tahun ke depan, jumlah kematian akibat AIDS diperkirakan akan meningkat drastis hingga 6,3 juta jiwa. Hal ini disampaikan oleh PBB untuk penanggulangan AIDS (UNAIDS) pada hari Senin, 24 Maret.

Presiden Donald Trump menghentikan hampir semua bantuan luar negeri AS setelah menjabat pada 20 Januari. Beberapa hari kemudian, Departemen Luar Negeri menyatakan program penyelamatan nyawa untuk HIV di bawah PEPFAR (Presidential Emergency Plan for AIDS Relief) akan tetap berjalan.

Namun, gangguan pendanaan kesehatan dan dampaknya terhadap layanan medis secara umum telah memberikan efek buruk bagi penderita HIV/AIDS. Direktur Eksekutif UNAIDS, Winnie Byanyima, mengatakan di Jenewa penarikan dana mendadak ini menyebabkan banyak klinik ditutup dan ribuan tenaga medis kehilangan pekerjaan.

"Semua ini berarti kita akan melihat peningkatan infeksi baru. UNAIDS memperkirakan bisa ada 2 ribu infeksi baru setiap hari," kata Byanyima, dikutip dari laman Reuters.

Ia menjelaskan perkiraan ini didasarkan pada model yang dibuat oleh PBB, tetapi tidak memberikan rincian lebih lanjut tentang cara perhitungan dilakukan.

Byanyima juga memperingatkan bahwa jika pendanaan dari USAID tidak kembali pada akhir masa pembekuan selama 90 hari, yaitu pada bulan April, atau tidak digantikan oleh sumber lain, maka dalam 4 tahun ke depan akan ada tambahan 6,3 juta kematian akibat AIDS. Menurut data terbaru, ada 600 ribu kematian terkait AIDS secara global pada tahun 2023.

"Jadi, kita berbicara tentang peningkatan hingga sepuluh kali lipat." tambahnya.

Pemerintahan Trump mengatakan pembekuan dana ini dilakukan untuk memastikan kebijakan bantuan luar negeri sejalan dengan prinsip 'America First'.

Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, membantah kabar Washington benar-benar menghentikan bantuan luar negeri. Ia menegaskan pengecualian telah diberikan untuk layanan penyelamatan nyawa.

Tim Trump mengklaim langkah ini telah menghemat puluhan miliar dolar bagi pembayar pajak AS dengan membatalkan kontrak, memecat pekerja, dan menghilangkan pemborosan serta penipuan dalam pemerintahan, meskipun mereka tidak memberikan banyak bukti untuk mendukung klaim tersebut.

UNAIDS yang mengoordinasikan respons global terhadap pencegahan dan pengobatan HIV/AIDS, menerima pendanaan inti sebesar 50 juta dolar AS atau Rp829 miliar dari Amerika Serikat pada tahun lalu, yang mencakup 35% dari anggaran badan PBB tersebut.