Ashira Zamita Ungkap Sulitnya Musisi Gen Z Indonesia Dapat Pengakuan di Industri Musik

JAKARTA - Ashira Zamita menceritakan perjalanannya sebagai penyanyi yang terus bertransformasi selama 15 tahun. Meski sudah bernyanyi sejak masih duduk di bangku Sekolah Dasar (SD), ia merasa potensinya belum dikenal luas di industri musik nasional.

Penyanyi yang akan genap berusia 23 tahun pada 27 Mei itu menyebut perjalanan musiknya dimulai sebagai penyanyi anak di tahun 2010. Namun, sebelumnya ia sudah tampil sebagai bintang iklan dan pemeran anak.

“Aku sendiri merasa sebagai salah satu musisi Gen Z yang rebranding berkali-kali. Jadi, pas aku masih kecil, mulai karier sebagai Chilla Irawan,” kata Ashira, saat menjadi panel diskusi dalam memperingati Hari Musik Nasional di Cilandak, Jakarta Selatan, Minggu, 9 Maret.

“Tapi pas aku masuk usia remaja, bermunculan lah musik-musik yang dibawain boyband. Semenjak bermunculan itu, anak-anak ABG arah musiknya ke sana, jadi musik seperti aku udah turun,” lanjutnya.

Ashira remaja bahkan sempat merasa lelah dengan pekerjaannya di dunia hiburan. Dia ingin menjadi remaja pada umumnya, yang bermain bersama teman-teman seumuran.

“Di situ lah aku mulai mengenai pop-punk, ngeband. Dulu aku suka All Time Low dam My Chemical Romance,” tuturnya.

Ashira pun berniat untuk menjalani karier musiknya dengan konsep band, alih-alih menjadi solois pop ballad yang disebutnya menjadi arus utama bagi penyanyi wanita saat itu.

“Akhirnya mulai lah aku pengin mencoba untuk sesuatu yang lebih aku banget lah, pengin coba ngeband aja, tapi konsepnya solois, kaya Avril Lavigne. Karena belum ada kan di Indonesia. Eh tau-taunya kebawa arus,” ujarnya.

Di era digitalisasi ini, kata Ashira, banyak hal yang dimudahkan dan berjalan begitu cepat. Namun ia melihat kemudahan itu membuatnya semakin sulit untuk menonjolkan keunikannya.

“Karena saking banyaknya yang bermunculan yang baru-baru, aku ngerasa kalau kita ini nggak punya sesuatu hal yang benar-benar menonjol banget, yang buat orang akhirnya recognize kita itu siapa,” katanya.

Belum lagi, Ashira merasa dirinya harus berhadapan dengan stigma industri musik Indonesia terhadap solois wanita.

“Menurut aku, perempuan agak sulit kalau kita mau berada di luar kotak kita, atau apa yang udah orang stigmakan pada kita. Pada saat itu, stigma musisi perempuan itu, di Indonesia, kaya lemah gitu, kayak yang galau gitu. Ya akhirnya mengikuti arus aja,” ujar Ashira.

“Pada saat itu, akhirnya yang kau acknowledge adalah memang kita untuk bisa mendapatkan perhatian dari orang-orang yang sudah lebih dulu, kita harus jadi diri sendiri sih,” pungkasnya.