Pelestarian Mangrove Donggala, Rumah bagi Spesies Langka yang Terancam Punah
JAKARTA - Upaya pelestarian mangrove di Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah, menjadi kunci penting dalam menjaga kelestarian ekosistem pesisir sekaligus melindungi spesies langka yang terancam punah.
Mangrove tidak hanya berperan sebagai pelindung pantai dari abrasi dan perubahan iklim, tetapi juga menjadi habitat penting bagi berbagai flora dan fauna, termasuk dua spesies mangrove langka yang masih tumbuh subur di wilayah tersebut.
Penelitian yang dilakukan oleh Dr. Bau Toknok dari Fakultas Kehutanan Universitas Tadulako mengungkapkan bahwa Sonneratia ovata dan Bruguiera cylindrica, dua spesies mangrove yang masuk dalam daftar terancam punah versi International Union for Conservation of Nature (IUCN), masih dapat ditemukan di Kecamatan Banawa Selatan, Donggala.
“Berdasarkan data IUCN, kedua spesies ini berstatus terancam punah, namun di Donggala mereka masih bertahan dan memiliki potensi untuk dikembangkan lebih lanjut,” ungkap Dr. Toknok saat acara peluncuran Program Climate Smart Shrimp (CSS) dan kegiatan penanaman mangrove di Donggala, seperti dikutip Antara.
Meski tidak mengungkapkan lokasi spesifik keberadaan mangrove langka tersebut, Dr. Toknok memastikan habitatnya masih relatif aman dan dapat dimanfaatkan untuk mendukung budidaya udang yang ramah lingkungan, tanpa mengorbankan kelestarian ekosistem.
Baca juga:
- PTPP Hijaukan Pesisir Tambakrejo dengan 1.000 Mangrove, Lindungi Masyarakat dari Abrasi dan Perubahan Iklim
- Memori Cristiano Ronaldo Jadi Duta Mangrove Indonesia
- Menhut Targetkan Tanam Mangrove di 1.500 Hektare Lahan Setahun
- Ajak Jaga Bareng 3,44 Juta Ha Lahan Mangrove, KLHK Ingatkan Manfaatkan Lahan Tanpa Alih Fungsi
Luas vegetasi mangrove di Banawa Selatan tercatat mencapai sekitar 300 hektare, dengan 9,64 hektare di antaranya telah ditetapkan sebagai kawasan hutan lindung di Desa Lalombi. “Kami memang belum menemukan spesies tersebut di Desa Lalombi, namun mereka masih tumbuh di desa sekitar dan ini membuka peluang konservasi lebih luas jika ada kerja sama dari masyarakat,” tambahnya.
Sebagai bagian dari upaya pelestarian dan pemberdayaan lingkungan, Program Climate Smart Shrimp hadir dengan pendekatan budidaya udang berkelanjutan yang mengedepankan prinsip ramah lingkungan dan konservasi mangrove. Metode ini tidak hanya berfokus pada peningkatan hasil panen udang, tetapi juga mengembalikan fungsi ekologis mangrove yang sebelumnya rusak akibat alih fungsi lahan.
Program ini melibatkan kolaborasi antara Yayasan Konservasi Indonesia, Fakultas Kehutanan Universitas Tadulako, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), serta JALA—perusahaan rintisan yang bergerak di bidang teknologi budidaya udang. Mereka mengembangkan sistem budidaya udang berkelanjutan di lahan bekas tambak seluas 10 hektare di Desa Lalombi.
Melalui pendekatan ini, diharapkan pelestarian mangrove tidak hanya melindungi keanekaragaman hayati, tetapi juga mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat lokal lewat praktik budidaya yang ramah lingkungan dan berkelanjutan.