KESDM Sebut Pulau Sumatera hingga Kalimantan jadi Wilayah Potensi EBT Tertinggi
JAKARTA - Penerapan energi baru terbarukan (EBT) di Indonesia menjadi langkah strategis dalam mewujudkan kemandirian energi dan menjaga kelestarian lingkungan.
Energi baru terbarukan (EBT) mengacu pada energi alternatif berasal dari alam yang dapat diperbarui secara terus-menerus dan dikelola menggunakan teknologi baru. Contoh EBT antara lain sinar matahari, angin, air atau arus laut, bioenergi hingga panas bumi.
Indonesia sendiri termasuk negara dengan potensi EBT yang sangat besar. Bahkan, Indonesia mampu mencapai kemandirian energi apabila EBT dikelola secara maksimal.
Terkait hal tersebut, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyebut, sedikitnya ada tiga wilayah di Indonesia dengan potensi dan pemanfaatan EBT nasional tertinggi di Tanah Air.
Pertama, berada di Pulau Sumatera dengan potensi pemanfaatan EBT sebesar 1.240,64 gigawatt (GW), lalu diikuti Pulau Jawa 696,58 GW.
"Pulau Sumatera ini 34 persen EBT ada di situ dan diikuti wilayah Jawa, Kalimantan, Sulawesi dan lain sebagainya," ujar Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM Eniya Listiani Dewi saat memberikan sambutan dalam acara Carbon Neutrality (CN) Mobility Event oleh Toyota: Beyond Zero Festival di Gambir Expo, Jakarta, Jumat, 14 Februari.
Meski memiliki potensi yang besar, Eniya tak menampik bahwa pemanfaatan EBT masih belum maksimal hingga saat ini. Pasalnya, hingga Desember 2024, pemanfaatan EBT secara nasional masih sekitar 14,88 GW saja.
Baca juga:
Eniya bilang, pemanfaatan EBT secara nasional paling besar berasal dari tenaga surya.
"Jadi, ini (pemanfaatannya) sudah lumayan, tapi masih kecil sekali diantara potensi yang kami punyai, yaitu masih sekitar 0,4 persen. Jadi, ini capaian Desember 2024 kemarin, ya," ucap Eniya.
"Tapi, dari potensi yang kami punyai, paling besar adalah surya. Nah, inilah yang ingin kami gali," pungkasnya.