Musisi The Beatles Paul McCartney Peringatkan Pemerintah Inggris Tentang Bahaya AI
JAKARTA – Paul McCartney, musisi yang sempat bergabung dengan grup The Beatles, memperingatkan bahaya Kecerdasan Buatan (AI) bagi para musisi. Teknologi ini dinilai dapat merampok 'karya' artis mana pun.
Karena itu, Paul mendesak pemerintah Inggris untuk melindungi industri kreatif. Musisi itu pun meminta pemerintah untuk memastikan reformasi hak cipta sehingga penyanyi atau pembuat lagu tidak akan dirugikan dengan teknologi AI yang terus berkembang.
Pernyataan ini dibuat karena Inggris berencana melisensikan karya seniman dalam pelatihan AI. Pada Desember lalu, pemerintah mengusulkan cara tersebut karena industri musik dan film kini berdampingan dengan teknologi, khususnya AI.
Menanggapi rencana tersebut, McCartney mengatakan bahwa ia khawatir. Raksasa teknologi dapat mengambil keuntungan dengan melatih model AI mereka menggunakan karya para musisi, tetapi di sisi lain perlindungan hak cipta belum terlalu kuat.
"AI adalah hal yang hebat, tetapi tidak seharusnya merugikan orang-orang kreatif," kata McCartney, dikutip dari Reuters. "Pastikan Anda melindungi para pemikir kreatif, seniman kreatif, atau Anda tidak akan memiliki mereka. Sesederhana itu."
McCartney menyadari bahwa AI juga berguna bagi para seniman. Pasalnya, ia sempat menciptakan kembali suara anggota band Beatles, John Lennon, dari rekaman kaset lama. Kecanggihan ini dinilai berisiko jika pemerintah tidak mengawasinya dengan benar.
"Yang sebenarnya terjadi adalah, uang itu mengalir ke suatu tempat dan masuk ke platform streaming - seseorang mendapatkannya, dan itu harus dilakukan oleh orang yang membuatnya. Itu tidak boleh hanya dilakukan oleh raksasa teknologi di suatu tempat," ujar McCartney.