Gencatan Senjata Tidak Memperbaiki Kehidupan Warga Palestina yang Hancur Akibat Genosida Israel

JAKARTA - Sekretaris Jenderal Amnesty International Agnès Callamard mengatakan, berita tentang kesepakatan gencatan senjata telah dicapai akan membawa sedikit kelegaan bagi warga Palestina yang menjadi korban genosida Israel, seraya menambahkan "ini sudah sangat terlambat."

Negosiator mencapai kesepakatan bertahap pada Hari Rabu untuk mengakhiri perang di Gaza antara Israel dan Hamas setelah 15 bulan konflik sejak 7 Oktober 2023, mengobarkan ketegangan di Timur Tengah. Ini akan mulai berlaku pada Hari Minggu mendatang.

Kesepakatan tersebut mencakup pembebasan bertahap para sandera yang ditangkap oleh militan yang dipimpin Hamas, dengan imbalan warga Palestina yang ditahan di penjara Israel.

"Bagi warga Palestina, yang telah mengalami lebih dari 15 bulan pemboman yang menghancurkan dan tanpa henti, telah mengungsi dari rumah mereka berulang kali, dan berjuang untuk bertahan hidup di tenda-tenda darurat tanpa makanan, air, dan persediaan dasar, mimpi buruk tidak akan berakhir bahkan jika bom berhenti," jelasnya, melansir WAFA 16 Januari.

"Bagi warga Palestina yang telah kehilangan banyak orang yang mereka cintai; dalam banyak kasus seluruh keluarga mereka musnah atau melihat rumah mereka hancur menjadi puing-puing, berakhirnya pertempuran tidak akan memperbaiki kehidupan mereka yang hancur atau menyembuhkan trauma mereka," tambah Callamard.

Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa Antonio Guterres mengatakan pada Hari Rabu, meringankan penderitaan yang luar biasa di Jalur Gaza, Palestina, menjadi prioritas setelah kesepakatan gencatan senjata antara kelompok militan Hamas dan Israel tercapai, seperti dikutip dari Reuters.

Selama perang 15 bulan, Israel telah menghancurkan sebagian besar Gaza dan populasi sebelum perang yang berjumlah 2,3 juta orang telah mengungsi beberapa kali.

Sekjen PBB Guterres menggambarkan situasi kemanusiaan di daerah kantong Palestina itu sebagai "bencana besar."

"Tidak ada waktu untuk disia-siakan. Penolakan dan penghalangan Israel yang terus-menerus dan disengaja terhadap bantuan kemanusiaan ke Gaza telah menyebabkan warga sipil menghadapi tingkat kelaparan yang belum pernah terjadi sebelumnya dan anak-anak mati kelaparan. Komunitas internasional yang sejauh ini secara memalukan gagal membujuk Israel untuk mematuhi kewajiban hukumnya harus memastikan Israel segera mengizinkan pasokan penyelamat untuk segera mencapai semua bagian Jalur Gaza yang diduduki untuk memastikan kelangsungan hidup penduduk Palestina," urai Callamard.

"Ini termasuk menjamin masuknya pasokan medis vital untuk merawat yang terluka dan sakit dan memfasilitasi perbaikan mendesak untuk fasilitas medis dan infrastruktur vital lainnya. Kecuali blokade ilegal Israel terhadap Gaza segera dicabut, penderitaan ini hanya akan terus berlanjut. Mereka juga harus segera memberikan akses kepada pemantau hak asasi manusia independen ke Gaza untuk mengungkap bukti dan mengungkapkan tingkat pelanggaran," pungkas Callamard.