Menelusuri Jejak Sriwijaya, Simbol Kejayaan Maritim Nusantara
YOGYAKARTA - Indonesia selalu menggembor-gemborkan diri sebagai negara maritim yang hebat, kuat, dan berdaulat. Apa yang digaungkan Indonesia memang tak ada salahnya. Selain dipengaruhi oleh faktor geografis, faktor historis juga turut membenarkan apa yang dikoarkan Indonesia. Salah satu faktor historisnya adalah bagaimana sumber sejarah Kerajaan Sriwijaya ditemukan di Indonesia.
Sumber Sejarah Kerajaan Sriwijaya dari China
Bukti adanya Kerajaan Sriwijaya dimulai dari penelitian yang dilakukan oleh para arkeolog dan ahli sejarah dari Eropa. Saat itu mereka menyelidiki sejarah bangsa di Asia Tenggara. Mereka mendapati bahwa di masa lalu para musafir China memiliki kebiasaan mencatat peristiwa dalam perjalanan mereka.s
Kebiasaan itu tak hanya dilakukan oleh para musafir, bahkan kerajaan China juga mencatat kedatangan para tamu yang datang sebagai salah satu bentuk penghormatan untuk mereka.
Orang Indonesia sendiri awalnya tak menyadari eksistensi Kerajaan Sriwijaya hingga tahun 1920-an. Saat itu, seorang sejarawan Prancis dari École française d’Extrême-Orient bernama George Cœdès menerbitkan penemuannya dalam buku yang berjudul Le Royaume de Crivijaya.
Dalam bukunya, George berhasil mengidentifikasi sebuah kerajaan yang bernama Shih-li-fo-shih yang diperkirakan memiliki kesamaan dengan Kerajaan Sriwijaya. Nama kerajaan Sriwijaya sendiri juga tercatat dalam prasasti di sekitar Palembang yakni Kedukan Bukit (tahun 682) dan prasasti Talang Tuwo (tahun 684).
Bukti awal keberdaaan Kerajaan Sriwijaya berasal dari abad ke-7. Seorang pendeta Tiongkok bernama I Tsing mencatat bahwa pada tahun 671 ia melakukan perjalanan ke Sriwijaya dan tinggal selama enam bulan. Saat itu kekuasaan Sriwijaya masih terbatas di sekitaran Palembang.
Namun saat I Tsing kembali ke Palembang pada tahun 689 kekuasaan Sriwijaya telah meluas. Bahkan pada tahun 775 Sriwijaya berhasil menjadi kerajaan yang kuat dan mampu mendirikan bangunan peridabatan di Ligor (semenanjung Malaka).
I Tsing menceritakan bahwa kerajaan Sriwijaya dikelilingi oleh benteng tinggi yang juga dihuni oleh lebih dari seribu pendeta Budha yang meneliti segala hal yang berkaitan dengan ajaran Budha.
Keagungan Sriwijaya menjadi simbol kebesaran Sumatera awal sekaligus jadi simbol kebesaran Nusantara selain Kerajaan Majapahit di Jawa Timur. Bahkan, kedua negara tersebut jadi referensi bagi para pendiri bangsa bahwa Indonesia dulunya adalah satu kesatuan jauh sebelum era kolonialisme datang.
Kerajaan Sriwijaya juga dikenal tak hanya di Nusantara, namun di beberapa negara. Orang China menyebut Sriwijaya sengan Shih-li-fo-shih atau San-fo-ts’i atau San Fo Qi. Sedangkan dalam bahasa Sansekerta dan Pali disebut dengan Yavadesh dan Javadeh. Bangsa Arab menyebut Sriwijaya dengan Zabaj.
Banyaknya penyebutan bagi Sriwijaya membuat jejak kerajaan tersebut sulit ditemukan. Alasan ini pula yang dinilai ikut membuat nama Sriwijaya tenggelam bahkan di dalam sejarah Indonesia sendiri.
Tak banyak bukti fisik tentang Sriwijaya yang ditemukan. Yang jelas, Sriwijaya jadi pusat perdagangan dan dikenal sebagai negara maritim pada masanya. Meski dikenal di berbagai negara, Sriwijaya tak memperluas kekuasannya di luar wilayah kepulauan Asia Tenggara, dengan pengecualian berkontribusi untuk populasi Madagaskar sejauh 3.300 mil di Barat.
Beberapa peneliti masih memperdebatkan kawasan pusat Sriwijaya. Meski demikian, ada dugaan bahwa Sriwijaya beberapa kali memindahkan pusat pemerintahannya. Ibu Kota Sriwijaya sendiri diduga kuat diperintah oleh penguasa sedangkan daerah pendukungnya diperintah oleh datu setempat.
Kekuatan Militer Kerajaan Sriwijaya
Meski masih banyak perdebatan terkait letak Kerajaan Sriwijaya, beberapa sejarawan memiliki keyakinan kuat bahwa ibu kota Sriwijaya ada di Nusantara. Arkeolog Pierre-Yves Manguin misalnya, yang setelah melakukan observasi ia meyakini bahwa pusat Sriwijaya ada di Sungai Musi, antara Bukit Seguntang dan Sabokingking (terletak di provinsi Sumatera Selatan sekarang).
Kekuatan Sriwijaya yang diafiliasikan sebagai kekuatan Nusantara di zaman dulu ini yang kemudian jadi kebanggaan Indonesia.
Di Ligor semenanjung Malaka ditemukan prasasti bertahun 775 yang menjelaskan beberapa hal tentang Sriwijaya. Dalam prasasti dikatakan bahwa Sriwijaya dipimpin oleh raja yang bernama Dharmasetu.
Di bidang persenjataan, Sriwijaya memiliki beberapa kesamaan dengan senjata India seperti panah dengan busur panjang, pedang pipih melengkung, rencong pendek namun besar, dan perisai panjang.
Baca juga:
Sriwijaya juga memiliki kapal megah yang bentuknya terpahat di relief Candi Borobudur di Magelang Jawa Tengah (Jateng). Di salah satu relief digambarkan kemegahan kapal milik Sriwijaya yang tengah berlayar. Dari identifikasi diketahui bahwa bentuk kapal Sriwijaya seperti pinishi dengan tiang layar yang besar dan mampu memuat beban berat atau mampu mengangkut seribu pasukan.
Banyak sumber sejarah Kerajaan Sriwijaya yang masih belum ditemukan. Untuk mendapatkan artikel menarik lain, kunjungi VOI.