JAKARTA — Pada Selasa, 28 Oktober Kementerian Kebudayaan menghelat konser “Suara: Nada Awal” di Museum Kebangkitan Nasional, Jakarta. Konser ini menghidupkan kembali karya-karya sang maestro, sang komponis penulis lagu “Indonesia Raya”, WR Soepratman, menuju peringatan 100 tahun Sumpah Pemuda.

Sebanyak tujuh komposisi WR Soepratman dibawakan dalam format string quartet, di antaranya Indonesia Tjantik, Ibu Kita Kartini, Di Timur Matahari, hingga Pahlawan Merdeka. Endah N Rhesa dan komunitas seni mitra Museum Rumah Bersejarah ikut tampil dalam panggung tersebut.

Menteri Kebudayaan Fadli Zon menegaskan bahwa konser ini menjadi cara menghidupkan lagi memori sejarah yang memantik kesadaran kebangsaan.

“Menghidupkan kembali karya WR Soepratman adalah pengingat bahwa persatuan kita lahir dari keberanian anak muda melawan penjajah dengan suara dan nada,” kata Menbud.

Ia menjelaskan kembali sejarah dikumandangkannya “Indonesia Raya” dalam Kongres Pemuda II. WR Soepratman memainkan biolanya dengan semangat perjuangan dan merekamnya bersama sahabatnya, Yo Kim Tjan, dalam versi keroncong.

Fadli mengatakan, karya maestro harus terus didekatkan ke generasi muda. “Anak muda hari ini harus bisa merasakan semangat yang sama ketika WR Soepratman memainkan ‘Indonesia Raya’ untuk pertama kali,” ujarnya.

Tak hanya konser, pameran temporer yang menampilkan biola asli WR Soepratman, piringan hitam, dan gramofon pertama yang memutarkan “Indonesia Raya” melengkapi pengalaman istimewa pengunjung.

“Suara: Nada Awal” menjadi program pembuka rangkaian tahunan SUARA (Suara, Ungkapan, Aksi, Rasa, Asa) menuju Kongres Pemuda 2.0 menyambut satu abad Sumpah Pemuda pada 2028. Acara ini dihadiri keluarga para tokoh Sumpah Pemuda dan pejabat Kementerian Kebudayaan.

Menbud Fadli Zon menegaskan dukungan penuh terhadap konser ini sebagai langkah strategis melestarikan karya maestro sekaligus memajukan musik Indonesia.


The English, Chinese, Japanese, Arabic, and French versions are automatically generated by the AI. So there may still be inaccuracies in translating, please always see Indonesian as our main language. (system supported by DigitalSiber.id)