独家, 当 Dwi 华宇达里约托 '婚姻' 体育和娱乐
Dwi Wahyu Daryoto. (Foto; Savic Rabos/DI; Raga/VOI)

Jakarta Propertindo atau lebih dikenal dengan Jakpro mulanya adalah perusahaan properti. Seiring perjalanan waktu membawa perusahaan milik Pempov DKI Jakarta ini terus bertrasformasi. Bidang garapan pun berkembang menjadi infrastruktur, utilitas dan teknologi informasi-komunikasi. Beragam proyek besar berhasil dikerjakan oleh Jakpro. Dwi Wahyu Daryoto, Ak, MSI sebagai Direktur Utama ingin mengawinkan sport dengan entertainment untuk beragam even yang akan digelar di Jakarta International Stadium (JIS), Velodrome, Equistrian dan beberapa venue lain yang kini dalam proses pengerjaan. Seperti apa konsepnya? Kepada tim VOI dia berbagi ide.

***

Jakpro adalah perusahaan daerah yang memiliki aset yang fantastis. Saat dilakukan revaluasi di tahun 2017 aset perusahaan ini menyentuh angka Rp17.693,90 miliar.  Konon ini adalah BUMD terbesar di seluruh Indonesia. Beragam proyek besar telah dan sedang dikerjakan Jakpro. Di antara yang sudah selesai adalah pembangunan velodrome dan equistrian, dan LRT Koridor 1 Fase 1 di Jakarta. Dua lainnya yang dalam proses penggarapan adalah revitalisasi Taman Ismail Marzuki (TIM) dan Jakarta International Stadium (JIS) yang masih dalam pengerjaan.

Tak hanya itu Jakpro juga dipercaya sebagai penyelenggara ajang balap mobil Formula-E yang tertunda penyelenggaraannya karena pandemi corona. Padahal pihak penyelenggara sudah siap 100 persen untuk perhelatan yang digadang-gadang mampu menghasilkan benefit untuk Jakarta tersebut. Kapan ajang balap Foruma-E ini akan digelar? Estimasi tahun 2022 kalau tidak ada halangan, yang jelas saat ini pemerintah masih berjibaku mengentaskan COVID-19 dari bumi pertiwi. 

Sebagai perusahaan yang 99,97% sahamnya dimiliki oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, Jakpro berkomitmen untuk menjalankan visinya menjadi perusahaan yang unggul untuk menjadikan Jakarta lebih baik. Perlahan namun pasti perusahaan berkembang dan bertransformasi menjadi perusahaan yang siap menghadapi tantangan ke depan yang kian berat.

Dengan berbagai pertimbangan Jakpro akan diarahkan pada unit bisnis ekonomi kreatif. Salah satu upaya yang dilakukan adalah ‘mengawinkan’ sport dan entertainment. “Strateginya membentuk SBU Sportainment. Ini akan menjadi perusahaan yang membawahi sport dan entertainment. Jadi arahnya adalah ekonomi kreatif,” demikian dikemukakan Dwi Wahyu Daryoto, Ak, MSI, kepada Edy Suherli, Iqbal Irsyad, Irfan Meidianto dan Savic Rabos dari VOI yang menyambanginya di kantor Jakpro, Thamrin City, Jakarta Pusat, 30 April 2021 . Ia bercerita soal progres pembangunan JIS, revitalisasi TIM, dan gelaran balap mobil Formula-E,  pengolahan sampah menjadi energi, dan pekerjaan lainnya yang tengah dilakoni oleh Jakpro. Inilah petikan wawancara selengkapnya.

Dwi Wahyu Daryoto. (Foto; Savic Rabos/DI; Raga/VOI)
Dwi Wahyu Daryoto. (Foto; Savic Rabos/DI; Raga/VOI)

Bagaimana progres pembangunan JIS dan Revitalsiasi TIM sampai saat ini?

Perkembangan untuk dua proyek yang ditanyakan itu JIS dan TIM, kita sudah sesuai dengan yang direncanakan. Pengerjaannya sampai saat ini kurang lebih 50 % sampai 55% dan mudah-mudahan di akhir tahun baik JIS maupun TIM sudah selesai dibangun.

Untuk JIS banyak sekali yang berharap beragam even bisa digelar di tempat ini, seperti apa konsepnya?

JIS ini didisain bukan hanya sebagai tempat atau lapangan sepakbola saja, tapi juga untuk berbagai even seni dan budaya. JIS akan menjadi tempat bagi publik Jakarta, Indonesia bahkan internasional melakukan berbagai kegiatan.  Kegiatannya bisa olahraga,  bisa sepak bola, rugbi, bungee jumping,  jogging, dan juga even musik dan seni budaya lainnya.

Pandemi Corona apakah mempengaruhi proses pembangunan JIS dan TIM?

Karena pandemi corona, APBD DKI tidak bisa mencukupi. Karena itu ada skema PEN (Pemulihan Ekonomi Nasional) baik itu PEN daerah maupun PEN komersial yang disalurkan melalui Kementerian Keuangan ke Bank DKI. Sejauh ini semuanya masih sesuai dengan rencana.

Untuk revitalsiasi TIM sejauh mana pengerjaannya?

Ya seperti halnya JIS, diharapkan revitalisasi TIM selesai akhir tahun ini.

Khusus untuk TIM sebelumnya sempat menjadi pertanyaan seniman, kalau TIM ini kental sekali usur komersilnya, ada komersialisasi dari TIM ini?

Ini sebenarnya yang perlu saya luruskan. Istilah komersialisasi itu tidak ada. Yang ada adalah optimalisasi iya. Jadi konsepnya itu bagaimana TIM bisa melakukan self-finacing artinya pembiayaan untuk dirinya sendiri.

Jadi untuk komersialisasi tidak ada, yang ada optimalisasi?

Kami pernah beberapa kali komunikasi dengan para seniman dan mereka bisa dipahami konsep ini. Optimalisasi maksudnya bagaimana aset yang kita punya bisa melakukan self-financing. Artinya bisa membiayai kebutuhan dirinya sendiri. Tidak selalu membebankan maintanance dari APBD DKI, tapi bisa mandiri. Membiayai dirinya sendiri, tidak lagi bergantung pada Pemda DKI. Jadi ada perbedaan yang signifikan antara optimalisasi dan komersialisasi. Kalau komersialiasi berarti saya mencari untung. 

Apakah proses pembangunan berjalan lancar?

Setelah kami melakukan pertemuan dengan para seniman, mereka bisa memahami apa yang kami inginkan; proses pembangun aja cukup lancar, sesuai dengan yang direncanakan.

Jadi sudah ada kesepahaman dengan teman-teman seniman?

Tidak hanya dengan teman-teman seniman. Kesepahaman dari semua konsep bagaimana kita merevitalisasi sebuah pusat kebudayaan yang bisa sustain tapi tidak membebani pemerintah daerah (sustainable financing).

Anda optimis konsep sustainable financing ini bisa berjalan?

Dengan bantuan semua pihak mustinya optimis. Karena konsepnya sudah ada.

Semoga bisa jadi contoh untuk daerah lain?

Semoga.

Dwi Wahyu Daryoto. (Foto; Savic Rabos/DI; Raga/VOI)
Dwi Wahyu Daryoto. (Foto; Savic Rabos/DI; Raga/VOI)

Bagaimana dengan ajang Formula-E?

Untuk ajang Formula-E akan digelar tahun 2022. Dan pemerintah DKI sudah diskusi dengan pihak FEO. Untuk penyelenggaraan ini akan melibatkan pihak swasta. Skemanya bagaimana nanti akan dirumuskan apakah masuk melalui sponsorship atau bentuk kerjasama lainnya. Sebenarnya kita sudah siap 100 persen. Karena ada pandemi semua diundur.

Sebagai BUMD yang punya aset besar, Jakpro diharapkan bisa berperan lebih dalam akselerasi perekonomian untuk bangkit setelah pandemi, apakah bisa seperti itu?

Aset yang dikuasai oleh Jakpro memang besar lebih dari Rp10 triliun. Perubahan jangka pendek yang dilakukan membuat perusahaan sehat. Ini penting agar bisa menjadi pembelajaran buat BUMD lainnya di Jakarta dan Indonesia. Saat saya masuk saya lakukan pemetaan dan diukur organization health index (Indeks Kesehatan Organisasi). Ternyata Jakpro itu di bawah standar. Selama 2018 sampai 2020 kami banyak melakukan perubahan. Yang paling sederhana transformasi di internal. Penataan ruang kantor, dulu gelap sekarang transparan dan terbuka. Selanjutnya yang kami lakukan upaya untuk mendapat sertifikat ISO 9001. Ini mengubah semuanya, dari cara kerja, dokumentasi dan sebagainya. Dari sertifikat ISO 9001 kita dapatkan di tahun 2019. Di tahun 2020 yang kami lakukan budaya  governance;  Governance, risk management, and compliance. Alhamdulillah kita sudah dapatkan sertifikat ISO-37001 Sertifikat Sistem Manajemen Anti Penyuapan (SMAP).  

 

Apalagi yang akan dilakukan untuk jangka panjang?

Jakpro ini dulunya perusahaan properti, bukan kontraktor. Kita tidak mungkin bersaing dengan perusahaan yang sudah mapan. Kita harus ubah strategi, berdasarkan arahan presiden ekonomi yang akan bangkit adalah ekonomi kreatif. Kita akan optimalkan tempat-tempat olahraga menjadi tempat entertainment. Kita akan mengawinkan antara sport dan entertainment dan juga leisure lainnya. Ada pantai KMB hasil reklamasi yang akan digunakan untuk pembuatan pasar ikan yang diisi oleh nelayan tradisional. Dan ini akan menjadi tempat wisata.

Salah satu strateginya adalah membentuk SBU Sportainment. Ini akan menjadi perusahaan yang membawahi sport dan entertainment. Jadi arahnya adalah ekonomi kreatif. Seperti hanya Formula-E, jangan hanya lihat balapannya, ada juga sisi wisatanya, penanaman modal dan sebagainya. Tahun 2030 mobil listrik mungkin akan lebih banyak dari mobil dengan bahan bakar fosil. Ini strategi jangan panjang yang harus kita pikirkan bersama.

Jadi  jangka pendek bagaimana kita menyehatkan organisasi, jangka panjangnya bagaimana kita mengatur pilar-pilar bisnis kita setelah pondasinya jangka pendek tadi kokoh, dan itu sudah siap. Kita udah mulai mengarah ke IT, digital, public utilities,  termasuk pengolahan sampah menjadi energi sudah menjadi arah bisnis kita.  Untuk pengolahan sampah ini proses tender dan pemilihan mitra sudah selesai dan lokasinya di wilayah Jakarta.

 

 

Ini Tips Hidup Sehat Ala Dwi Wahyu Daryoto, Kamu Bisa Tiru Kok  

Kesehatan adalah harta yang tak ternilai harganya. Dengan tubuh yang sehat apa saja bisa dilakukan. Hal itu disadari benar oleh Dwi Wahyu Daryoto, Direktur Utama BUMD milik Pemda DKI Jakarta; Jakarta Propertindo alias Jakpro.  Ia amat teliti memperhatikan masalah kesehatan ini. Baginya menjaga kesehatan lebih baik daripada mengobati. Makanan yang sehat, olahraga yang cukup dan menikmati seni, adalah tiga unsur yang dilakoni Dwi untuk menuju hidup yang sehat jasmani dan juga rohani.

Dwi Wahyu Daryoto. (Foto; Savic Rabos/DI; Raga/VOI)
Dwi Wahyu Daryoto. (Foto; Savic Rabos/DI; Raga/VOI)

Sebelum memegang tampuk pimpinan Jakpro, pria yang lahir di Mojokerto, Jawa Timur,  9 Desember 1963 ini sudah merenda karier di berbagai perusahaan baik swasta maupun milik pemerintah.  Beberapa posisi strategis pernah ia pegang, antara lain anggota Dewan Pengawas di Pertamina Foundation  2015 - 2016, Komisaris Utama di PT Pertamina Drilling Services Indonesia  2015 - 2018.

Kemudian ia pernah menjadi Komisaris Utama di PT. Pelita Air Service 2015 - 2018, dan Komisaris Utama di PT. Patra Jasa 2015 - 2018. Dia juga pernah menjabat sebagai Wakil Ketua Dewan Pengawas di Yayasan Dana Pensiun Pertamina sejak tahun 2015, Dewan Pembina di Badan Dakwah Pertamina Pusat sejak tahun 2015, dan Dewan Pengawas di Yayasan Kesehatan Pertamina sejak tahun 2015. Sejak 10 Juli 2018 Dwi dipercaya  menjadi Direktur Utama PT Jakarta Propertindo (Perseroda)  berdasarkan Akta No. 4 tanggal 10 Juli 2018.

Untuk urusan makan, Dwi enggak mau main-main. “Untuk makan saya cukup teratur, sampai saat ini untuk makan saya enggak ada pantangan dalam urusan makan. Saya mengerti bagaimana mengatur makanan yang sehat,” kata pria yang suka dengan tempe dan tahu ini.  

Bukan tanpa alasan kalau Dwi suka sekali dengan bahan makanan kaya protein nabati itu. Karena ia memang mengurangi asupan makanan yang mengandung lemak dan mengandung kolesterol. “Saya lebih banyak makan sayur dan dan makanan-makanan yang tidak banyak mengandung kolesterol. Jadi kalau di rumah saya paling paling banyak sayur,  sama tahu tempe dan tempe. Untuk air saya dan keluarga pakai air purifier.  Gorengan saya sudah mengurangi, jadi enggak ada yang digoreng. Selain itu  saya rutin konsumsi buah-buahan,” kata pria yang belum mau disebut sebagai vegetarian ini. Soalnya sesekali dia masih menyantap daging. 

Tapi dia tidak menampik kalau kini, gaya hidupnya sudah mengarah ke vegetarian meski belum total. Soalnya ia juga ikut meditasi dan punya teman-teman yang menerapkan gaya hidup  vegetarian. “Boleh dibilang saya ini sudah hampir ke arah sana (vegetarian). Karena saya kebetulan juga ikut tim meditasi yang anggotanya banyak mereka yang menerapkan pola hidup vegetarian alias enggak mengonsumsi bahan makanan dari daging dan olahan daging,” papar alumni  Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN) ini.

Dwi Wahyu Daryoto. (Foto; Savic Rabos/DI; Raga/VOI)
Dwi Wahyu Daryoto. (Foto; Savic Rabos/DI; Raga/VOI)

Tak cukup dengan mengonsumsi asupan makakan yang sehat. Untuk menjaga kesehatan tubuh, dia juga rutin berolahraga. “Untuk menjaga kesehatan badan saya rutin berolahraga. Dulu pada waktu saya masih kerja di kantor sebelumnya (Pertamina, PriceWaterhouseCoopers, dll),  saya hobi main golf dan bersepeda,” ungkapnya.

Dan kebiasaan  berolahraga rutin itu masih terjadi sampai kini saat ia sudah menjadi Direktur Utama Jakarta Propertindo. “Tidak ada yang berbeda untuk urusan olahraga, dari dulu sampai sekarang saya masih rutin berolahraga. Cuma selama pandemi corona mewabah di Indonesia saya memang belum pernah main golf. Tapi untuk gowes masih saya lakukan di akhir pekan. Ya, hampir setiap hari Sabtu dan Minggu kalau enggak ada kesibukan penting sekali atau yang tak bisa ditinggalkan, saya pasti nge-gowes,” kata pemilik gelar Magister Psikologi dari Universitas Indonesia  tahun 2012.

Untuk urusan gowes, Dwi melakukannya dengan beberapa rekannya yang juga punya hobi yang sama. Enggak main-main sekali nge-gowes dia bisa mengaspal sejauh 50 sampai 60 kilometer. Sebuah jarak yang lumayan jauh dan cukup menguras tenaga dan keringat. “Saya enggak jauh-jauh gowesnya ya sekitar 50 sampai 60 km,” ujarnya merendah.

Dwi Wahyu Daryoto. (Foto; Savic Rabos / DI; Raga/VOI)
Dwi Wahyu Daryoto. (Foto; Savic Rabos/DI; Raga/VOI)

Selain olahraga di luar rumah, di  rumah pun dia bisa melakukan aktivitas olahraga. “Saya punya ruangan kecil di rumah untuk berolahraga. Jadi di sana ada peralatan fitnes buat saya dan keluarga berolahraga kalau enggak sempat berolahraga di luar rumah. Ada treadmill, barbel untuk angkat beban, tempat untuk sit-up,  dan lain sebagainya. Ya peralatan standar untuk fitnes.  Seminggu minimal tiga kali saya melakukan treadmill dengan durasi sekitar setengah jam sampai satu jam,” tambahnya.

Dalam bersepeda  Dwi tak mengutamakan gaya atau pencitraan. Karena bukan itu yang ia inginkan. Dia benar-benar melakukan olahraga untuk menjaga kesehatan dengan rutin berolahraga. “Temen-temen gowes ada dari perusahaan-perusahaan tempat dulu saya bekerja sebelum di Jakpro.  Dan ada juga yang dari Jakpro. Cukup banyak teman-teman Jakrpo yang juga hobi gowes,” tambahnya.

Selain menjaga asupan makanan dan rutin berolahraga, Dwi juga melengkapi hidupnya dengan menikmati sesuatu yang bernuansa seni. Dia adalah sosok penikmat seni meski tidak berani mengaku sebagai ahli dalam bidang seni tertentu. “Saya ini termasuk katagori insan yang menikmati seni. Saya suka musik, meski saya enggak bisa main musik,” Dwi amat menyukai dan menikmati musik klasik dan termasuk gamelan Jawa.

Untuk urusan film dan teater juga demikian. “Untuk film saya menonton kalau ada film yang penting dan menjadi perhatian banyak orang. Kalau ada film seperti itu baru saya menonton. Terakhir yang menarik buat saya saat film tentang grup musik Queen hadir di bioskop. Itu saya menonton,” katanya tentang film bertajuk Bohemian Rhapsody yang berkisah tentang perjalanan grup musik kondang asal Inggris Queen.

Dulu waktu Teater Koma dan Bengkel Teater berjaya,  Dwi nyaris tidak melewatkan satu pertunjukan teater yang disesaki oleh seniman teater top di Indonesia itu. “Kalau teater saya suka menonton, terutama dulu di zamannya almarhum Rendra masih aktif di Bengkel Teater. Terus Ketika Bagong Kussudiardja atau Butet Kartarejasa, dan  Salim Bungsu main, pasti saya menonton. Kalau mereka pentas saya upayakan untuk menonton,” kenangnya. Ia berharap para seniman teater ini bisa memaksimalkan Taman Ismail Marzuki sebagai tempat untuk unjuk karya.

-=-

“Tidak ada yang berbeda untuk urusan olahraga, dari dulu sampai sekarang saya masih rutin berolahraga. Cuma selama pandemi corona mewabah di Indonesia saya memang belum pernah main golf. Tapi untuk gowes masih saya lakukan di akhir pekan. Ya, hampir setiap hari Sabtu dan Minggu kalau enggak ada kesibukan penting sekali atau yang tak bisa ditinggalkan, saya pasti nge-gowes,” katanya.

-=-

     


The English, Chinese, Japanese, Arabic, French, and Spanish versions are automatically generated by the system. So there may still be inaccuracies in translating, please always see Indonesian as our main language. (system supported by DigitalSiber.id)