JAKARTA - Direktorat Jenderal Pajak (DJP) Kementerian Keuangan mengingatkan masyarakat untuk berhati-hati terhadap penipuan yang mengatasnamakan Coretax System.
Direktur Penyuluhan, Pelayanan, dan Hubungan Masyarakat DJP, Rosmauli mengimbau masyarakat untuk berhati-hati terhadap maraknya penipuan yang mengatasnamakan Direktorat Jenderal Pajak.
"Kami sangat menyesalkan masih adanya pihak-pihak yang memanfaatkan kepercayaan masyarakat dengan modus pemadanan NIK–NPWP melalui pesan pribadi di WhatsApp," ujarnya kepada VOI, 29 Oktober.
Rosmauli menegaskan, DJP tidak pernah meminta data melalui pesan pribadi, tautan tidak resmi, atau aplikasi pihak ketiga.
"Pemadanan NIK dan NPWP memang merupakan program resmi DJP, namun tidak pernah dilakukan melalui pesan pribadi, tautan tidak resmi, atau aplikasi di luar milik DJP," ucapnya.
Menurut Rosmauli, pemadanan NIK–NPWP memang merupakan program resmi DJP, namun proses resmi hanya dilakukan melalui situs www.pajak.go.id atau secara langsung di Kantor Pelayanan Pajak (KPP) dengan membawa KTP dan NPWP.
"Proses yang benar hanya melalui situs www.pajak.go.id atau secara langsung di Kantor Pelayanan Pajak dengan membawa KTP dan NPWP," jelasnya.
Selain itu, ia menambahkan masyarakat juga diingatkan untuk tidak mengklik atau membalas pesan mencurigakan, serta segera mengonfirmasi ke Kring Pajak 1500 200 atau melapor ke KPP terdekat jika menerima pesan yang meragukan.
"Kami mengajak masyarakat untuk lebih berhati-hati dan bijak dalam menjaga data pribadi. Jangan mudah percaya pada pesan atau panggilan yang meminta data sensitif, apalagi bila disertai tautan mencurigakan. Jika menerima pesan seperti itu, jangan diklik, jangan dibalas, dan segera konfirmasi ke Kring Pajak 1500 200 atau laporkan ke KPP terdekat," imbuhnya.
Menurutnya kewaspadaan masyarakat adalah kunci utama dan pastikan selalu memperoleh informasi pajak hanya dari kanal resmi DJP.
"Bila ragu, verifikasi dulu sebelum bertindak. Mari bersama jaga keamanan data pribadi dan saling mengingatkan agar tidak ada lagi yang menjadi korban penipuan," ujarnya.
Sebelumnya melalui unggahan di akun Instagram @hellsims, ia membagikan pengalamannya sebagai korban penipuan online. Penipuan itu terjadi setelah ia menerima pesan WhatsApp yang mengaku berasal dari instansi pajak, terkait pemadanan NIK dengan NPWP melalui Coretax.
"Selamat Siang Perkenalkan saya Safira ingin menginformasikan mengenai data Ibu/Bapak di perpajakan yang belum melakukan pemadaman atau sinkronisasi," video yang ditampilkannya.
Meski korban menjawab telah melakukan pemadanan, oknum tetap mengatakan datanya belum tercatat di sistem.
"Tanggal 3 September 2025 kemarin gw menerima wa yang mengaku dari instansi pajak ingin menginformasikan perihal pemadanan NIK dengan NPWP di coretax dan djp. Dia tau semua data gw mulai dari kedua nomor HP gw, awalnya gw suspicious tapi karena dia udah tau data gw, ya gw ladenin," jelasnya.
另请阅读:
Korban kemudian mengikuti instruksi oknum selama percakapan telepon, yaitu pelaku meminta korban mengunduh aplikasi M-Pajak palsu yang ternyata dapat mengakses seluruh data di ponsel korban, termasuk aplikasi keuangan seperti GoPay Pinjam, Shopee Pinjam, dan Bank Jago.
"Ternyata setelah itu gw ditelpon dan menurut apa yang dia minta mulai dari install app M-Pajak yang ketika masuk ke app itu dan pilih gabung seperti di gambar yang gw share, yang muncul hanya lingkaran dengan tulisan (kalo gw ga salah) verifikasi lalu angka progress dengan persen, dan selama percakapan terjadi di layar HP beberapa kali minta verif wajah dan sidik jari yang ternyata app itu bisa mirroring ke device lain dan mengakses semua HP gue termasuk app GoPay Pinjam, Shopee Pinjam dan Bank Jago," ujarnya.
Setelah sekitar satu jam, korban menyadari dirinya telah menjadi korban scam dan pelaku berhasil mencairkan pinjaman dan melakukan beberapa transaksi dari rekening Bank Jago korban, dengan total kerugian mencapai Rp53.170.025.
The English, Chinese, Japanese, Arabic, and French versions are automatically generated by the AI. So there may still be inaccuracies in translating, please always see Indonesian as our main language. (system supported by DigitalSiber.id)