JAKARTA – Peneliti dari Center of Reform on Economics (Core), Eliza Mardian menanggapi turunnya harga beras medium di pasar belakangan ini yang bukan semata-mata dipengaruhi oleh penyesuaian harga eceran tertinggi (HET).

Menurutnya, terdapat faktor lain yang lebih menentukan yakni kondisi Indonesia yang saat ini belum sepenuhnya kondusif akibat dari aksi demonstrasi.

"Sebetulnya ada beberapa faktor kenapa beras medium tiba-tiba turun di pasar, tapi faktor paling yang menentukan adalah kondisi indonesia yang saat ini masih belum kondusif, publik yang kecewa kepada beberapa kebijakan dan marah karena pejabat publik yang nir-empati," ungkapnya kepada VOI, Senin, 1 September.

Dikatakan Eliza, harga beras memiliki sensitivitas tinggi di masyarakat. Jika harga terus naik tanpa penyebab signifikan, hal itu dapat memicu kekecewaan publik yang berujung pada gejolak sosial.

"Jika harga beras terus naik tanpa penyebab signifikan ini akan semakin mengundang amarah publik, karena urusan perut amat sangat sensitif. Khawatir terjdi hal-hal tidak diinginkan karena sudah gelap mata ingin memenuhi kebutuhan hidup terutama pangan pokok, sementara dari sisi kenaikan pendapatan tidak sebanding dengan kenaikan harga-harga kebutuhan hidup di pasar," tegasnya.

Selain faktor sosial, Eliza menyebut adanya panen raya kedua di sejumlah daerah juga turut menambah pasokan beras sehingga harga beranjak menuju keseimbangan baru antara permintaan dan penawaran.

"Jadi agar tidak meluas ke mana-mana, harga beras disesuaikan dan juga karena beberapa daerah sudah ada yang panen raya kedua sehingga harga beras beranjak ke keseimbangan baru supply and demand," ucapnya.


The English, Chinese, Japanese, Arabic, and French versions are automatically generated by the AI. So there may still be inaccuracies in translating, please always see Indonesian as our main language. (system supported by DigitalSiber.id)