Cerita Bidan Desa di Sumba Timur, Dulu Gelap Gulita Saat Bantu Warga Melahirkan Kini Terang Benderang

MINAHASA - Rona bahagia terpancar dari wajah Herdiana Hadattau, salah satu warga Wairara, Kabupaten Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur, yang berprofesi sebagai bidan desa. 

Kini desanya telah teraliri listrik yang bersumber Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH) Wairara dengan kapasitas terpasang sebesar 1 x 128 kilowatt (kW).

Melalui tayangan video pendek, Herdiana berkisah jika dirinya sering menghadapi kesulitan saat harus membantu ibu hamil yang hendak melahirkan. Hal ini diperberat dengan kondisi ibu hamil yang tidak dibeali dengan pendidikan yang layak sehingga sering datang dengan kondisi darutat yang membutuhkan penanganan ekstra.

"Ada banyak hal di mana banyak ibu hamil yang kami temukan, SDM kurang, saat mereka mau bersalin, listrik kami tidak ada. banyak sekali kendala peneragan, kemudian akses jaringan akses jalan," ujarnya saat peresmian PLTMH Wairara, Rabu, 29 Oktober yang dilakukan secara virtual oleh Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia.

Sejak tahun 2015, Herdiana mengaku sering kali menggunakan penerangan yang berasal dari senter saat harus membantu persalinan ibu-ibu di kampung.

"Biasanya kami juga pakai genset, genset kami isi pakai solar," tambah dia.

Herdiana mengaku sering kali harus melakukan iuran dengan teman sejawat untuk membeli solar dengan harga Rp20.000 per liter. Padahal, solar merupakan salah satu komoditas yang disubsidi oleh pemerintah.

"Jadi kami patungan sama teman-teman kami, biasanya 1 botol atau 1 liter kami beli dengan harga Rp20.000," tambah dia.

Dengan mata berbinar dan suara bergetar, Herdiana mengaku pekerjaannya sebagai bidan desa semakin dipermudah sejak mendapat akses listrik yang bersumber dari PLTMH. Bahkan, ia bisa membantu penanganan darurat saat membutuhkan oksigen bahkan operasi c section

"Setelah ada listrik kami sangat senang sekali. Sangat membantu saat kami penanganan darurat saat kami butuh O2 atau c section. Dengan ada listrik kami sangat senang," sambung Herdiana.

Hadir sebagai perwakilan Kementerian ESDM di Desa Wairara, Wakil Menteri ESDM Yuliot Tanjung mengatakan dari PLTMH Wairara, terdapat 105 rumah yang menjadi penerima manfaat. Tak hanya itu saja, aliran listrik ini juga akana menerangi Seklolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan pusat layanan kesehatan masyarakat, hingga kantor pemerintahan seperti kantor camat, juga kantor desa dan rumah ibadat.

"Saat ini PLTMH Wairara dikelola oleh BUMDES, ini juga merupakan bagian pemuatan kegiatan yang ada di desa, jadi dengan adanya pengolahan oleh BUMDES, itu justru perawatan terhadap PLTMH ini bisa berjalan dengan baik," jelas Yuliot.

Kehadiran PLTMH Wairara menjadi contoh pemanfaatan energi air skala kecil yang ramah lingkungan dan sesuai dengan karakteristik daerah. Diharapkan dapat mendorong kegiatan ekonomi produktif di masyarakat, seperti pengolahan hasil pertanian, UMKM, dan kegiatan sosial

Yuliot menambahkan, PLTMH Wairara kapasitas 1x128 kW sejatinya telah comissioning dan beroperasi melayani akses kelistrikan masyarakat di Desa Wairara per bulan November 2022. 

"Sebelum hadirnya PLTMH, masyarakat di Wairara hanya mengandalkan genset berbahan bakar solar dengan biaya operasional yang sangat tinggi, sekitar 0,35–0,4 liter solar per kWh," jelas dia.

Kini, dengan beroperasinya PLTMH Wairara, biaya listrik efektif bagi masyarakat turun menjadi sekitar 3–6 sen dolar AS per kWh.

"Hal ini menunjukkan adanya penghematan biaya energi masyarakat hingga lebih dari 85 persen, sekaligus pengurangan konsumsi solar sekitar 62.000 liter per tahun atau senilai Rp1,24 miliar per tahun," tandas Yuliot.